Dear, siapapun kamu yang membaca tulisanku ini.
Aku seorang remaja berumur 16 tahun dengan kulit putih porselen dan iris mata biru lautku di padu dengan rambut kuning pucat yang juga terpadu warna hitam. Aku merasa hidup sebatang kara, hidup sendiri dalam keheninganku. Bergelut dengan pikiran dan segala pemikiran-pemikiran yang seharusnya tidak aku pikirkan. Aku bukan anak remaja seperti kebanyakan. Aku lebih suka menyendiri bergelut dengan segala alat yang bisa aku gunakan untuk menulis. Aku sangat suka menulis, membaca, berkhayal dan mendengarkan musik. Waktu umurku 7 tahun, aku ingat betul bercita-cita menjadi seorang dokter anak. Ya, tentu saja aku masih menncita-citakannya. Namun belakangan ini aku tertarik dalam bidang psikologis, politik dan sastra. Namun orangtuaku tidak pernah melihat ke dalam diriku bahwa aku mencita-citakan hal itu.
Sepintas aku sehat wal'afiat dimata semua orang. Keluargaku, sahabatku, dan teman-temanku. Tapi semakin lama aku merasa ada yang salah dengan kejiwaanku. Tidak, aku bukannya gila. Karena aku yakin, orang gila tidak cukup waras untuk menyadari dirinya mengalami kegilaan. Kerap kali aku sendiri, dan kerap kali aku mendapat hentakan kasar dalam diriku, aku tau ada yang salah. Psikologisku ada yang tidak beres. Tekanan demi tekanan sudah ku dapat sejak aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Seperti kataku tadi, aku bukan anak yang suka ikut berhambur bersama anak-anak lainnya. Aku lebih suka berteman dengan orang yang unik dan mampu membuatku nyaman. Mereka membenciku, mencaciku dan menyingkirkanku ke kalangan anak-anak yang di kucilkan. Tekanan batin bukan lagi hal aneh bagiku. Kudapatkan mulai dari orangtuaku, sahabatku dan ketika aku mulai mengenal cinta. Aku sadar aku sakit. Sakit batin dan jiwa. Kepalaku beberapa kali kudapati seperti di pukul dari dua arah dengan batu dan membuatku terhunyung dan nyaris membuatku merintih. Aku rasa itu kurang darah. Aku juga merasa bahwa aku punya masalah perut yang benar-benar membuatu kerepotan dan khawatir. Tetapi yang paling menyedihkanku adalah, ketika aku mendapati maag ku kambuh, dan gas asam lambungku meningkat sehingga membuatku berlaku layaknya seperti orang mau muntah atau biasa di sebut 'mual' ternyata mampu membuat salah satu temanku menilai minus diriku. Apa salah? Padahal aku sangat menyayanginya. Aku menerima setiap kekurangannya. Dan tidak pernah mengeluh atas sikapnya yang sering kali membuat tidurku tidak tenang.
Aku dilarang jatuh cinta dan dilarang bersahabat. Menurut orang tua asuhku, itu hanya membawa petaka. Menyusahkan aku dan tak ada gunanya. Tapi takdir bekata lain. Aku memiliki banyak sahabat dan itulah alasanku bersemangat ke sekolah atau kursus ke berbagai tempat. Ternyata Allah memberikanku anugerah lain, Ia mengenalkanku pada cinta. Aku tidak tau kapan cinta pertamaku datang, namun yang aku tau, cinta lebih dari sekedar mengaguminya dari jarak jauh dan berlaku layaknya stalkers tak di kenal dalam hidupnya. Tak pernah terpikir olehku bahwa aku akan jatuh cinta dengan sahabatku sendiri. Ya, ini pertama kali aku jatuh cinta pada seorang sahabatku dan pertama kalinya aku memiliki sahabat laki-laki. Allah membuat segala sesuatu bermula sangat amat sempurna. Sampai aku mengira bahwa kami akan baik baik saja, tapi ternyata kita benar-benar tidak tau kapan keseimbangan itu akan runtuh. Allah membuat jalan cintaku begitu rumit sampai akhirnya sekarang aku merasa ada pagar listrik yang telah menghalangi aku dan dia. Aku tau cerita kami mungkin sudah usai. Tapi ceritaku belum berhenti tentang dia. Ia tidak mengatakan aku harus berhenti mencintainya. Dan aku berharap bahwa semangatku yang telah redup bisa sedikit demi sedikit terbangun dan kembali pada bulan desember 2010, ya seperti lagunya Taylor Swift yang berjudul Back To December. Ah, mungkin lebih baik langsung balik ke April saja.
Aku ingin terbaring di bawah langit di pangkuan ibuku. Aku ingin ia membelai rambutku dan menjagaku sampai aku terlelap. Namun itu hanya angan yang takkan pernah tergapai. Kedua orang tua asuhku di besarkan dengan keadaan yang keras. Ya, jadi begitulah pula ia mendidikku. Sejak kecil aku sudah mendapatkan perlakuan menyakitkan yang terkadang membuat kulit putihku biru-biru akan perlakuannya. Sekali, aku pernah di usir hanya karena emosinya meledak karena masalah spele masalah pembantu rumahku. Bagaimanapun, aku tetap anak perempuan kan? Tapi sayangnya, aku terlahir dengan sifat layaknya anak perempuan dan benar-benar bertolak belakang dengan kekerasan dan membuatku makin tersiksa di dalam sini. Aku jadi merasa mirip dengan cerita pendek sahabatku yang berjudul 'Burung di Sangkar Emas'.
Aku tau banyak temanku yang mengira hidupku nyaris sempurna. Bahkan dengan bodoh atau polosnya mereka mengatakan ingin bertukar hidup denganku. Mungkin inilah yang harus aku Syukuri, ternyata (mungkin) hidup mereka tidak seindah milikku. Lagi pula, ketika semua orang pergi dan meninggalkan aku sendiri, aku bisa duduk bersama kelinci-kelinciku dan menangis sepuasnya. Kira-kira, kemana perginya ya sahabat-sahabatku yang pergi meninggalkanku itu? Padahal aku membutuhkan mereka. Padahal, ketika ingin mengutarakan segala hal, aku selalu siap mendengarkan. Mungkin benar bisikkan batinku, bahwa aku terlalu banyak peduli pada orang lain dan malah mengabaikan diriku sendiri.
Terima kasih banyak telah menemukan tulisanku ini. Dan terimakasih sudah repot-repot mau membacanya. Ah ya, perkenalkan, namaku Arayula. Semoga hidupmu lebih menyenangkan dari sebelumnya! Doakan aku juga ya! Terimakasih, strangers! :'D
✎ Arayula♡
🙋
BalasHapus