Senin, 19 Desember 2011

Hujan

Hujan adalah salah satu anugrah Allah yang mampu menenangkan jiwa dikala gusar, kalut, sulit. Namun hujan juga mampu membuat jendela hati menghasilkan cairan bening yang keluar perlahan yang sering kita sebut air mata. Hujan adalah salah satu suasana yang aku suka, dulunya. Tapi aku kehilangan rasa itu dan menjadi no respons dengan hujan. Hujan mampu membuatku terdiam, dan membuat program di otakku bekerja memutar waktu dimana aku bahagia dan sedih. Entah kapan aku telah menitikkan air mata di ujung kelopak mataku. Hari ini, aku menangis lagi di tengah hujan. mengendarai motor dan memutar memori. Siluet-siluet lalu terputar hebat di benakku, harapan-harapan yang sirna, tawa canda yang terhapus perlahan, kepura-puraan, masalah hingga psikologis. Hujan mampu membuatku terdiam. Dan saat itu aku berdiri di sebuah rumah kecil di pinggir sungai. Meneduh, menunggu sang awan merasa cukup menumpahkan rezekinya. Foto berukuran 3x4 berada di tanah, persis di tempat jatuhnya air dari genting rumah itu. Perlahan namun pasti, hujan itu menghapus ukiran yang terdapat di atasnya.

Begitu pula yang aku pahami, 'hujan' mampu menghapus kebahagiaan dan kepedihan. Dikala kita hancur, 'hujan' mampu membuat kita lebih tenang dan seusainya, mampu membuat kita berpikir lebih jernih. 'Hujan' mampu membuat kepedihan terhapus dan menjadikan kita kembali putih. Ya, walau takkan ada luka tanpa meninggalkan bekas. Namun jangan lupakan bahwa 'hujan' pula lah yang mampu menghapus harapan, kebahagiaan, kebersamaan yang sudah terbentuk. Pembaca, mengertikah kamu 'hujan' yang aku maksudkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar