Selasa, 21 Februari 2012

Ketika Kenyataan Berbicara

Ketika kenyataan berbicara, Saya seorang pribadi yang sangat teliti mencari kebenaran dari sebuah pernyataan dan berusaha mempunyai pemikiran seluas mungkin, berbicara dan mengungkapkan pernyataan dan pemikiran atas berdasarkan dari fakta dan kumpulan bukti. Tidak terlalu peduli bagaimana tingkat keuntungan dan kerugian saya. Selama kebenaran telah tersurat dan tersirat. Walau saya tahu, sedikit banyak kenyataan menyakitkan.

Berdasarkan penelitian dan pemahaman saya atas keadaan yang terjadi pada kejiwaan orang-orang yang hidup di muka bumi ini, terutama para remaja (tidak terkecuali saya) di hadapkan pada pilihan yang berat. Pilihan-pilihan itu menghasilkan kenyataan-kenyataan ternyata yang mampu menggoyahkan tingkat mental seseorang. Beberapa yang mempunyai daya pikir sangat sehat dan luas pemikirannya, ia akan menyadari dan perlahan tapi pasti menerima kenyataan yang sudah maupun akan terjadi. Namun sebagian pula, ternyata goncangan pada jiwa tersebut membuat orang tersebut tidak bisa, lebih tepatnya tidak mau menerima kenyataan yang sudah atau akan menghampiri hidupnya. Perhatian! Ada pula yang menyadari dan mencoba untuk menerima, kemudian melakukannya perlahan, tapi tidak pasti. Mengerti kalimat saya? Ia menyadari kalau ia harus mampu menerimanya, ia mencoba pelahan, namun kenyataannya ia tidak pernah benar-benar melepasnya. Walau hanya beberapa kata, faktanya hal ini mampu mengganggu mentalitas seseorang dan kemampuan kerja otak dan pembentukan pola pikir seseorang. Berhati-hatilah dalam melangkah, pembaca.

Dan sekarang mari kita bahas tentang anda. Anda melakukan pernyataan dan pemikiran sempit atas dasar mencari keuntungan sebesar-besarnya. Anda tidak mau ada kerugian di atas usaha tidak rasional yang anda buat. Bahkan anda tidak peduli seberapa banyak kerugian yang anda buat. Anda gunakan berbagai cara, temasuk memakai berbagai topeng murahan, untuk mengelabuhi orang orang termasuk saya. Sahabat saya berkata padaku, "jika ada orang yang berani 'bermain' denganmu, ia sama saja telah membangunkan harimau." Dan sayang, bau jejakmu telah tercium di inderaku. Berhati-hatilah, sedikit banyak kebohongan anda mudah sekali tercium 'pemangsa' kebenaran, seperti saya salah satunya. Jadi, sudah berapa banyak kebohongan yang anda ucapkan? Berapa banyak lagikah anda menyembunyikan kenyataan? Allah atau Tuhanmu menciptakan setiap manusia itu untuk menjadi pemenang. Tapi anda memilih diri anda untuk menjadi pecundang yang tertimbun kebohongan anda sendiri.

Saya sudah cukup lelah mengikuti permainan yang maaf, saya dapat katakan idiot dan tidak bermutu. Janganlah kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya hanya untuk dirimu seorang. Tidak ada yang namanya manusia polos di jaman yang sudah fana ini. Janganlah bertindak seakan anda manusia yang polos tidak tau apapun tentang masalah ini. Sudah cukup anda berada di urutan atas roda kehidupan. Saya, kami, sudah lelah melihat dan mendengar tentang anda yang semakin membuat tingkat kesehatan mental remaja, menurun.

Ya, inilah ketika kenyataan berbicara tentang saya dan anda.

Rabu, 01 Februari 2012

Geest

Geest adalah bahasa Dutch yang berarti semangat. Menurut kalian, apakah arti semangat itu? Perlukah semangat menyertai langkah dan harimu?

Bagiku, semangat adalah perasaan hangat yang menyelimuti hati, membuat pemiliknya merasa nyaman dan merasa siap menghadapi segala hal. Semangat mampu menyulap rasa takut menjadi keberanian, menepuk pundak seseorang yang telah terjatuh dan memberitahukan bahwa cahaya mentari telah muncul. Aku, tidak akan bisa melanjutkan kehidupan yang tidak bisa di bilang sangat bahagia -atau tidak dapat di bilang buruk- tanpa adanya semangat. Walaupun semangat itu hanya setitik cahaya kecil sebuah lilin di kegelapan, tapi itu menandakan bahwa masih ada harapan. Dan aku takkan menyerah dalam hidupku karena alasan konyol.

Kawan-kawan dan para pembaca, jika kamu di haruskan memilih, mana yang kamu pilih antara sakit jiwa dan sakit hati?


Ini jawaban pribadiku. Aku tidak mau sakit jiwa, maupun sakit hati, namun apabila aku di haruskan memilih, aku lebih baik sakit hati dari pada sakit jiwa. Mengapa? Karena, bagi siapa yang sakit jiwanya, saat itulah akal sehatnya telah hilang. Saat itulah kamu menganggap semuanya sama dan tidak dapat membedakan yang mana yang baik, dan yang mana yang buruk. Karena hilangnya akal sehatku aku bisa saja di vonis berbagai macam penyakit dan terkurung dalam kurungan pikiran ku sendiri juga dan juga dunia ini. Sedangkan sakit hati, adalah sebuah perasaan yang aku ibaratkan sebuah cobaan yang mengajarkan kita untuk lebih dewasa dalam bersikap. Bagaimana kita menyikapinya? akankah kita bertabah hati, berlapang dada dan berserah diri pada Allah atas perlakuan orang tersebut, atau kita membalasnya dan membuat dunia bagaikan benang kusut hanya karena rencana bodoh dirimu atas ia yang melakukannya? Sakit hati tidak akan membuat kamu mati dan kehilangan masa depanmu. Tapi ada kemungkinan, dengan sakitnya jiwa kita, maka kamu bisa kehilangan masa depan cemerlangmu.

Percayalah pembaca, Allah mempunyai rencananya sendiri yang jauh lebih baik dari pada rencana kita. Allah tau yang terbaik buat kita. Jadi, tanamkanlah rasa percayamu dan yakinlah semua akan jauh lebih baik. Janganlah kamu mencoba memaksakan kehendak dan mencoba melawan apa yang Allah gariskan, karena dengan itu, kamu tidak akan sakit jiwa, walaupun sakit hati (perasaan) menyelimuti.

Masa depan kita masih panjang, dan masa depanku akan cemerlang. Aku tidak mau hal bodoh menggangguku menggapai masa depan cemerlangku. Aku tidak mau masalah perasaan dan kejiwaan itu merambat dan mempengaruhi pola pikirku. Dalam hidup ini, jadilah sebagai 'pemain', jangan kamu jadi objek mainan hidup ini. Karena aku percaya, ketika kita dapat mengontrol diri kita sendiri, di situlah sukses akan menghampiri.