Ketika kenyataan berbicara, Saya seorang pribadi yang sangat teliti mencari kebenaran dari sebuah pernyataan dan berusaha mempunyai pemikiran seluas mungkin, berbicara dan mengungkapkan pernyataan dan pemikiran atas berdasarkan dari fakta dan kumpulan bukti. Tidak terlalu peduli bagaimana tingkat keuntungan dan kerugian saya. Selama kebenaran telah tersurat dan tersirat. Walau saya tahu, sedikit banyak kenyataan menyakitkan.
Berdasarkan penelitian dan pemahaman saya atas keadaan yang terjadi pada kejiwaan orang-orang yang hidup di muka bumi ini, terutama para remaja (tidak terkecuali saya) di hadapkan pada pilihan yang berat. Pilihan-pilihan itu menghasilkan kenyataan-kenyataan ternyata yang mampu menggoyahkan tingkat mental seseorang. Beberapa yang mempunyai daya pikir sangat sehat dan luas pemikirannya, ia akan menyadari dan perlahan tapi pasti menerima kenyataan yang sudah maupun akan terjadi. Namun sebagian pula, ternyata goncangan pada jiwa tersebut membuat orang tersebut tidak bisa, lebih tepatnya tidak mau menerima kenyataan yang sudah atau akan menghampiri hidupnya. Perhatian! Ada pula yang menyadari dan mencoba untuk menerima, kemudian melakukannya perlahan, tapi tidak pasti. Mengerti kalimat saya? Ia menyadari kalau ia harus mampu menerimanya, ia mencoba pelahan, namun kenyataannya ia tidak pernah benar-benar melepasnya. Walau hanya beberapa kata, faktanya hal ini mampu mengganggu mentalitas seseorang dan kemampuan kerja otak dan pembentukan pola pikir seseorang. Berhati-hatilah dalam melangkah, pembaca.
Dan sekarang mari kita bahas tentang anda. Anda melakukan pernyataan dan pemikiran sempit atas dasar mencari keuntungan sebesar-besarnya. Anda tidak mau ada kerugian di atas usaha tidak rasional yang anda buat. Bahkan anda tidak peduli seberapa banyak kerugian yang anda buat. Anda gunakan berbagai cara, temasuk memakai berbagai topeng murahan, untuk mengelabuhi orang orang termasuk saya. Sahabat saya berkata padaku, "jika ada orang yang berani 'bermain' denganmu, ia sama saja telah membangunkan harimau." Dan sayang, bau jejakmu telah tercium di inderaku. Berhati-hatilah, sedikit banyak kebohongan anda mudah sekali tercium 'pemangsa' kebenaran, seperti saya salah satunya. Jadi, sudah berapa banyak kebohongan yang anda ucapkan? Berapa banyak lagikah anda menyembunyikan kenyataan? Allah atau Tuhanmu menciptakan setiap manusia itu untuk menjadi pemenang. Tapi anda memilih diri anda untuk menjadi pecundang yang tertimbun kebohongan anda sendiri.
Saya sudah cukup lelah mengikuti permainan yang maaf, saya dapat katakan idiot dan tidak bermutu. Janganlah kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya hanya untuk dirimu seorang. Tidak ada yang namanya manusia polos di jaman yang sudah fana ini. Janganlah bertindak seakan anda manusia yang polos tidak tau apapun tentang masalah ini. Sudah cukup anda berada di urutan atas roda kehidupan. Saya, kami, sudah lelah melihat dan mendengar tentang anda yang semakin membuat tingkat kesehatan mental remaja, menurun.
Ya, inilah ketika kenyataan berbicara tentang saya dan anda.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar