Bunda, anganku sangat tinggi, mencapai
jagat raya. Bermimpi dapat menjunjung hak-hak setiap makhlukNya yang
menapakkan kaki di muka bumi ini. Di awali mirisnya pemandangan yang
kulihat di kaca kendaraan roda empat yang ku tumpangi. Kaki-kaki
tanpa alas itu berjalan di aspal panas mencari hal-hal yang dapat di
ubahnya menjadi koin-koin emas. Satu-satunya pakaian lusuh yang
mereka kenakan tak layak lagi melindungi diri mereka, terutama ketika
sang rembulan dan bintang-bintang unjuk gigi di langit kelam.
Berganti terus berganti orang-orang
berpangkat yang duduk di kursi-kursi kebanggaan mereka. Tidakkah
mereka tergugah hatinya?
Bukan. Bukan untuk menolong mereka.
Terkadang memberi beberapa kepingan saja mungkin mereka lupa. Tidak
ada yang berubah. Nasib mereka masih sama. Kelaparan, kepanasan,
kedinginan, tidur di pinggir jalan-jalan besar kota metropolitan
kita.
Bunda, bukankah anganku terlalu tinggi?
Akankah aku bisa meraihnya?
Apakah aku bisa menjadi bagian dari
calon-calon yang akan merubah nasib 'mereka'?
Atau, akankah aku dapat menerima
tanggung jawab yang nanti akan di serahkan padaku?
Bagaimana jika aku salah? Bagaimana
jika aku tidak cukup kuat untuk sekedar mencapainya?
Bagaimana jika kepercayaanku goyah di
tengah perjalanan dan aku tak sempat meraihnya?
Aku takut. Aku kalut. Aku berperang
dengan diriku sendiri. Aku ingin percaya pada mimpiku. Ingin rasanya
memantapkan hasratku. Tapi di tengah jembatan gantung ini, aku
sendirian. Modalku hanya kepercayaanku pada Allah, sedikit
kepercayaan pada diriku & mimpiku, kedua kakiku untuk menapak, 2
utas tali yang menjadi pegangan di sisi kanan dan kiriku, dan... di
atas jembatan gantung ini, aku masih sendirian.
Angin terus menerpaku. Menusuk kulitku.
Tubuhku bergidik bersamaan goyangan jembatan gantung ini. Dan aku,
masih sendiri.
Aku harus membuat keputusan besar.
Mengejar mimpiku kemudian melupakan hidup dan bahagiaku, atau
mencoba meraih mimpi dan bahagiaku tanpa melupakan hidupku? Tidak.
Tidak semudah kalimat-kalimat itu. Tentu kalian yang membaca tulisan
tak berbobot ini akan memilih pilihan kedua, jika menjadi aku. Kita
kembali lagi ke 2 paragraf sebelumnya.
Aku takut. Ya, aku takut aku tidak
siap. Aku takut aku tidak mampu. Siapa yang akan membangunkan aku
nanti kalau aku jatuh, jika aku jauh dari kedua kesatriaku?
Bahkan, disaat seperti ini, aku
sendirian. Aku belum sampai hingga bagian tengah jembatan ini.
Aku butuh pelukan yang menenangkan,
Bun. Aku butuh air mataku keluar sambil meluapkan ketakutanku agar
terasa terbebas dari jeratan ini. Aku butuh semangat dan dukungan.
Aku butuh kepercayaan.
Tapi, belum. Aku sama sekali belum
menemukan hal-hal itu. Bahkan rasanya setiap detik, ada saja yang
membuat beban pikiran dan hati ini makin berat.
Di depan, jembatan gantung ini terbelah
dua jalur. Pilihan-pilihanku. Pilihan mana yang pantas dan patut aku
perjuangkan? Kemanakah aku harus melangkahkan kakiku, ya Allah?
