Jumat, 15 Februari 2013

Celotehan Hati


Bunda, anganku sangat tinggi, mencapai jagat raya. Bermimpi dapat menjunjung hak-hak setiap makhlukNya yang menapakkan kaki di muka bumi ini. Di awali mirisnya pemandangan yang kulihat di kaca kendaraan roda empat yang ku tumpangi. Kaki-kaki tanpa alas itu berjalan di aspal panas mencari hal-hal yang dapat di ubahnya menjadi koin-koin emas. Satu-satunya pakaian lusuh yang mereka kenakan tak layak lagi melindungi diri mereka, terutama ketika sang rembulan dan bintang-bintang unjuk gigi di langit kelam.

Berganti terus berganti orang-orang berpangkat yang duduk di kursi-kursi kebanggaan mereka. Tidakkah mereka tergugah hatinya?
Bukan. Bukan untuk menolong mereka. Terkadang memberi beberapa kepingan saja mungkin mereka lupa. Tidak ada yang berubah. Nasib mereka masih sama. Kelaparan, kepanasan, kedinginan, tidur di pinggir jalan-jalan besar kota metropolitan kita.

Bunda, bukankah anganku terlalu tinggi? Akankah aku bisa meraihnya?
Apakah aku bisa menjadi bagian dari calon-calon yang akan merubah nasib 'mereka'?
Atau, akankah aku dapat menerima tanggung jawab yang nanti akan di serahkan padaku?
Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika aku tidak cukup kuat untuk sekedar mencapainya?
Bagaimana jika kepercayaanku goyah di tengah perjalanan dan aku tak sempat meraihnya?

Aku takut. Aku kalut. Aku berperang dengan diriku sendiri. Aku ingin percaya pada mimpiku. Ingin rasanya memantapkan hasratku. Tapi di tengah jembatan gantung ini, aku sendirian. Modalku hanya kepercayaanku pada Allah, sedikit kepercayaan pada diriku & mimpiku, kedua kakiku untuk menapak, 2 utas tali yang menjadi pegangan di sisi kanan dan kiriku, dan... di atas jembatan gantung ini, aku masih sendirian.

Angin terus menerpaku. Menusuk kulitku. Tubuhku bergidik bersamaan goyangan jembatan gantung ini. Dan aku, masih sendiri.
Aku harus membuat keputusan besar. Mengejar mimpiku kemudian melupakan hidup dan bahagiaku, atau mencoba meraih mimpi dan bahagiaku tanpa melupakan hidupku? Tidak. Tidak semudah kalimat-kalimat itu. Tentu kalian yang membaca tulisan tak berbobot ini akan memilih pilihan kedua, jika menjadi aku. Kita kembali lagi ke 2 paragraf sebelumnya.
Aku takut. Ya, aku takut aku tidak siap. Aku takut aku tidak mampu. Siapa yang akan membangunkan aku nanti kalau aku jatuh, jika aku jauh dari kedua kesatriaku?
Bahkan, disaat seperti ini, aku sendirian. Aku belum sampai hingga bagian tengah jembatan ini.
Aku butuh pelukan yang menenangkan, Bun. Aku butuh air mataku keluar sambil meluapkan ketakutanku agar terasa terbebas dari jeratan ini. Aku butuh semangat dan dukungan. Aku butuh kepercayaan.

Tapi, belum. Aku sama sekali belum menemukan hal-hal itu. Bahkan rasanya setiap detik, ada saja yang membuat beban pikiran dan hati ini makin berat.
Di depan, jembatan gantung ini terbelah dua jalur. Pilihan-pilihanku. Pilihan mana yang pantas dan patut aku perjuangkan? Kemanakah aku harus melangkahkan kakiku, ya Allah?