Sabtu, 30 Juni 2012

Fear

Aku takut. Takut sekali. Rasa takutku tidak pernah sebesar ini setelah sekian lama. Aku takut. Aku juga lelah. Aku lelah akan rasa takutku. Dan terdapat lelah di rasa takutku. Bukan. Bukan soal waktu. Ini semua tentang rasa takutku. 

Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya. Melihat wajah dan mendengar suara pertamanya. Mungkin ia boleh bukan tidak sedarah denganku. Dia boleh ukan anak dari ibuku. Tapi ia adalah saudaraku, kawan terbaikku. Ibuku menemukannya masih di dalam telur terjatuh dari sarang yang terletak di atas tempat kami tinggal. Tak lama, sarang begitu pula sang induk terjatuh dari atas. Ibuku bilang, Ibu kandungnya sudah dalam keadaan tidak memiliki denyut nadi lagi. Ibuku kemudian membawa telur itu kedalam tempat kami tinggal, sebuah lubang di bawah pohon oak besar. Ia, adalah seekor anak burung elang dengan bulu yang sangat menawan. Ia menjadi istimewa di antara kami para kelinci berbulu putih. Ah, tidak. Warna buluku, bukan hanya putih. Terdapat warna coklat muda di atas  putihnya. Dimana aku juga menjadi kelinci yang berbeda diantara mereka. Aku anak paling muda dari 7 bersaudara -terkecuali si elang yang menawan-, dan sang anak elang itu menjadi adik kami bertujuh.

Tiga warna pada bulunya, hitam, cokelat bercampur putih seperti milik kami, yang membuatnya terlihat menawan. Paruhnya gagah dan matanya tajam sekali. Ibuku merawatnya dan memberinya kasih juga sayang sama seperti ia memberikannya pada kami, anak kandungnya. Kami mulai belajar memakan makanan yang seharusnya kami makan, tanaman untuk kami, dan daging untuknya. Tapi kami tidak menganggapnya asing atau berbeda. Kami belajar berjalan, berlari bersama, -saat itu ia belum bisa mengepakkan sayapnya-. Ia dan aku sangat dekat, lebih dari kakak-kakakku. Mungkin kami sama-sama yang termuda. Kami sering menghabiskan waktu bersama, sekedar berjalan-jalan bersama, atau melakukan pertengkaran kecil yang di akhiri tawa kami berdua.

Hari itu hari dimana ibuku mengajarkannya mengepakkan sayapnya. Ibuku tidak mau ia terlihat cacat karena ia belum bisa mengepakkan sayapnya, sementara seharusnya seusianya sudah dapat mengepakkan sayapnya. Seharian itu ibu dan Bee -namanya-, berlatih keras. Dan dua hari kemudian, ia sudah dapat terbang mencapai benda putih melayang di atas sana. Semenjak saat itu, ia dan aku jarang menghabiskan waktu berdua. Dia asik terbang bersama kawanannya dan aku harus membantu kakak-kakakku juga Ibuku. Tapi, kami bersyukur ia masih pulang ke rumah.

Sampai saat itu adalah musim semi setelah musim salju yang sangat panjang, kami yang berbulu keluar dari sarang, menyudahi hibernasi kami. Bee juga keluar dan merenggangkan sayapnya yang lebar itu. Tak lama, datang sekumpulan elang lewat diatas pohon temat kami tinggal, melesat kedalam hutan. Dan saat itu, tanpa mengucapkan apapun, Bee mengepakkan sayapnya dan terbang mengikuti mereka. Hingga saat ini, ia belum kembali. Saat itu aku berharap ia setidaknya menoleh kepada kami, jika memang ia inginkan pergi. Tapi, tanpa kata tersirat maupun tersurat, ia pergi meninggalkanku. 

Kami semua merindukannya. Aku merindukannya. Seperti saat kami masih di dalam perut ibu kami, atau ia masih di dalam telur. Aku rindu rasa hangat dan nyaman di hati tanpa harus memikirkan apapun. Seperti kami merindukan matahari di musim dingin yang sangat panjang. Seperti kami merindukan musim semi di saat musim kemarau. Tiap waktu tersulam benang-benang kerinduanyang menyusup dalam hati. Tapi rasanya rindu ini layaknya bulan dan matahari, seterang-terangnya mereka, tidak pernah sampai untuk saling berucap rindu.

Aku takut. Takut sekali. Adakah disana memiliki rasa takut untukku? Adakah disana, merindukanku? Adakah disana setia menunggu kepulanganku dikala aku pergi?


Selasa, 26 Juni 2012

Berbeda

Being Different Is Not Always Mean Being Strange


Tidak ku sangka, orang yang memupuk semangatku adalah orang yang sama dengan orang yang mematahkan kedua sayapku. Mungkin kalian jarang melihatku berada di sekitar kalian. Bahkan hampir tidak pernah. Karena aku hanya sesosok manusia kecil yang tidak terlalu kasat mata. Dulu aku terbang bebas di atas sana, sama seperti kawan-kawanku yang tengah menikmati sepoian angin sore ini. Sedangkan aku duduk di tepian menggantungkan kakiku di sebuah papan di dekat tepi laut ini. Kuresapi bagaimana dinginnya air laut sore yang menyentuh jemari kakiku yang tanpa menggunakan alas itu. Kemudian ku rebahkan tubuhku di papan itu. Pandanganku melesat keatas menikmati indahnya sore ini. 'Andaikan saja aku masih bisa ikut dengan kawan-kawanku di atas sana', bisikku pelan pada angin yang menerpaku.

Beberapa hari yang lalu, baru saja aku benar-benar kehilangan kedua sayapku. Tidak lagi bisa terbang tentunya. Beberapa minggu lalu, sayap itu sempat patah, namun sosok itu membantuku menyembuhkan dan memulihkannya lagi. Setelah beberapa hari, aku mampu terbang lagi bersama kawan-kawanku di atas sana. Ketika badai menerpa kami, kami segera mencari tempat berteduh. Aku tidak mau usaha yang sudah ia berikan, terbuang karena terpaan angin hebat itu. Tapi takdir berkata lain. Disaat aku berusaha menyelamatkan hal-hal yang sangat berharaga untukku di tengah badai, tiba-tiba benda besi merayap diatas tanah beroda empat itu datang cepat bagaikan kilat. Manubruk tubuh kecilku tak berdaya tergeletak di kaca depan mobil itu. Ia, bahkan sama sekali tidak menyadari keberadaanku di sana. Bagaimana ia bisa menyadari telah menyakitiku?

Hujan bertambah deras dan aku dapat merasakan benda besi itu bergerak lebih cepat. Tubuhku berasa remuk tak bisa ku angkat untuk sekedar duduk saja. Sampai akhirnya aku menyadari mobil yang telah menabrakku berhenti di bawah pohon dan tidak bergerak lagi. Namun bunyi deru mesin masih terasa, lagi terdengar. Ku kerahkan seluruh tenagaku dan tubuhku mulai bergerak. Ku kerjapkan mataku agar dapat melihat lebih jelas karena hujan itu. Ku dengar dengan samar ia berbicara dengan orang lain di dalam sana. Orang lain itu terlihat cantik menggoda. 'Sepertinya aku akan jatuh pingsan', pikirku yang kian lama kian menutup mata. Dan akupun terlelap hingga sang fajar membangunkanku. Dan aku terkejut ketika sesosok keluar dari dalam mobil itu. Ia... Ia adalah orang yang telah memperbaiki sayapku kemarin.

Tapi tak apa, waktu tak dapat di putar. Tak ada yang yang boleh ku sesali. Mungkin menjadi berbeda itu jalanku. Tak ada salahnya juga kan, menjadi yang berbeda? :)

Took Photos

Beloved

            Bukan sebuah foto lima orang anak manusia yang menjadi buronan hebat layaknya Umar Patek, tersangka pengeboman bom Bali tahun 2002 silam. Bukan pula sebuah foto lima orang anak manusia  yang tidak memiliki pekerjaan. Bukan pula sebuah foto anak lima manusia yang nakal dan sering berbuat onar.


             Bagi-ku, ini adalah sebuah foto kenang-kenangan tentang lima anak orang manusia yang memiliki kharakter berbeda-beda. Bagi-ku, ini adalah foto lima anak manusia yang akan menjadi orang-orang sukses kelak, yang membangun negeri ini menjadi lebih baik. Bagiku, ini adalah foto lima anak manusia yang memiliki tingkat kekonyolan luar biasa, yang dapat mencerahkan hari lebih dari sinar matahari.


              Mungkin memang berlebihan, tapi bagi-ku, mereka orang-orang yang sangat aku sayang. Mungkin mereka sering membuat aku bersedih, tapi itu semua bukan tentang itu. Bagi-ku, ini semua tentang kebersamaan. Dimana kami satu sama lain bisa membentuk senyum di hati yang sedang bersedih dan dapat membuat satu sama lain tertawa hingga menangis. Mungkin satu tahun memang waktu yang sebentar. Tapi bagiku tidak. Karena satu tahun yang kami lalui cukup berat. Bukan masalah dari luar yang menguji seberapa besar keinginan kami untuk kebersamaan ini. Tapi kami juga telah menghadapi masalah-masalah dari dalam diri kami pula. Tapi aku harap, apapun masalah itu, kami bisa menghadapinya. Nah, mulai perkenalan foto yang di atas.


              Dimulai dari yang paling kiri ada si genius Rizto Wisuda Senuari yang selalu menjadi juara satu di kelas (amin...). Dia ini orang yang paling sulit berekspresi waktu foto. Maka dari itu, foto ini salah satu foto limited editionnya dia. Ceritanya kami memang sepakat untuk mengambil gambar dengan menampangkan gigi kami. Dan ya! Sukses aku mendapatkan fotonya yang berekspresi. :p
Rizto ini tempat ceritanya orang-orang, loh. Terutama cewek-cewek. Entah kenapa ini manusia satu laku bener. Sabar-sabar deh yang jadi ceweknya. Hahaha kidding bosss! :p
Selama aku kenal dia, dia itu sikapnya tidak terdefinisikan. Kadang seperti kucing yang jinak, kadang galak kayak harimau, kadang kayak bunglon yang tak terdefinisikan. Tapi yang pasti, kalau berbicara sama dia, readers pasti tau kenapa di awal aku bilang dia genius. 


                  Kedua, di belakang ada Sarah Shafira Wijaya artis theater ketupat tahun ajaran 2010/2011. Dia ini sering banget senasib sama aku. Entah nanti senang, barengan. Sedih juga barengan. Gak ngerti deh gimana bisa begitu. Suaranya yang cempreng khas sekali di telinga. Dan setiap dia tersenyum, pasti matanya hilang sangking enceknya. :p
Dia juga suka banget segala sesuatu yang berbau Jepang. Mungkin karena pengaruh enceknya juga. Dia suka ikut cosplay gitu di acara-acara kejepangan kayak Inoubu. Aku sama Sarah punya lagu-lagu yang kita suka sama-sama. Jadi gak jarang juga kita nyenyi berdua lagu-lagu kesukaan kita. Sarah ini punya cerita mirip cerita sinetron dan sepertinya, kalau kelas 12 tidak jadi di rombak, akan tercipta sinetron "Cinta Sarah - Season 2". :p


                    Nah yang ketiga di depan itu aku. Temen-temenku memberi gelar #Terprinsip dan #Terkonser. Kenapa? karena kata mereka aku memiliki prinsipku sendiri dan tak suka di ganggu gugat. Kalau Terkonser itu karena aku sering nyanyi-nyanyi gajelas di kelas, bahkan disaat kelas sedang sepi. :p
Kalau Rizto orang genius, Sarah suka hal berbau Jepang, aku... Aku apa ya? Yah mereka bilang sih aku jago di bidang Bahasa Inggris dan cocok di bidang Hukum. Entahlah, random.
Nah, ini yang aku banggakan. Aku punya banyak panggilan. "Tata", biasanya yang manggil aku dengan ini yang sudah lama kenal aku. Aku juga bingung kenapa. Sarah kadang manggil aku dengan "Shinte" / "Nteh". Rizto dulu pernah bilang aku "Donat" / "Tabi", karena dia bilang aku gemuk. Biasanya Alif -yang akan aku ceritakan di bawah nanti- bilangnya "Es", soalnya katanya kita CS. "Tharakero" & "Sinjo" suka di panggil ini juga, soalnya nama twitterku tharakero dan dulu masih jamannya Sinta dan Jojo. Walaupun aneh-aneh. Tapi aku suka. Yah berarti banyak yang sayang aku kan? #Plak  :p


                     Yang ke empat di belakang dengan mata sedikit beler itu Alif Oktafian seorang cowok yang ngaku ngaku keren dan suka banget galau karena calon istrinya, katanya. UuUuUuUu... :p
Kalau menurutku sih, dia ini tipe orang yang gak boleh terlalu seneng, gak boleh terlalu sedih juga. Soalnya dia gampang goyah. Tapi dia ini juga salah satu anak pintar di kelas, loh. Dia ini pemikirannya suka sedikit 'berbeda'. Tapi dia juga temen yang enak di ajak cerita. Dia penggemar lagu-lagunya Justin Bieber, sampai beli albumnya JB yang tebaru. Berbeda sama Rizto yang aliran musiknya yang cowok banget, tipe lagu anak ini menjurus ke mellow gitu, mungkin karena ini dia galau mulu ya? :p
Oh, iya. Satu keburukan dia yang paling gak aku suka. Suka nge-PHPin orang, (Pemberi Harapan Palsu). Soalnya kalo kita janjian main nih, pasti dia suka ingkarin gitu. kan BT. -_-


                         Ini dia yang terakhir, si Nurfitriyani yang paling narsis diantara kita semua. Dia suka banget foto-foto dan punya berbagai gaya setiap foto. Gak kayak kita berempat yang gayanya begitu-begitu aja. Dia ini cewek tomboy yang sedikit serem. Tau kenapa serem? Soalnya temennya 85% cowok semua. Itu bukan suatu hal yang bisa di banggain. Itu menyeramkan buatku. -_-"
Dia pernah jalan-jalan dari bekasi ke Sumedang naik motor bareng temen-temennya. Dan berujung di marahin sama orang tuanya, sampai nyaris gaboleh ikut karyawisata. cewek yang suka di panggil Acil ini suka takut banget nonton film horor. Sampe teriak-teriak dan nyungsep gitu. Tapi Acil ini baik banget loh. Dan cukup sabar ngadepin aku yang kadang suka galak suka kayak bocah. :p


                          Yah, intinya mereka ini sebagian orang-orang yang aku sayang. Entah dengan mereka aku ini apa. Tapi aku sayang mereka. No Spacing, Guys! All i need, everyday with you♥ :D


SARS and Fitri