Aku takut. Takut sekali. Rasa takutku tidak pernah sebesar ini setelah sekian lama. Aku takut. Aku juga lelah. Aku lelah akan rasa takutku. Dan terdapat lelah di rasa takutku. Bukan. Bukan soal waktu. Ini semua tentang rasa takutku.
Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya. Melihat wajah dan mendengar suara pertamanya. Mungkin ia boleh bukan tidak sedarah denganku. Dia boleh ukan anak dari ibuku. Tapi ia adalah saudaraku, kawan terbaikku. Ibuku menemukannya masih di dalam telur terjatuh dari sarang yang terletak di atas tempat kami tinggal. Tak lama, sarang begitu pula sang induk terjatuh dari atas. Ibuku bilang, Ibu kandungnya sudah dalam keadaan tidak memiliki denyut nadi lagi. Ibuku kemudian membawa telur itu kedalam tempat kami tinggal, sebuah lubang di bawah pohon oak besar. Ia, adalah seekor anak burung elang dengan bulu yang sangat menawan. Ia menjadi istimewa di antara kami para kelinci berbulu putih. Ah, tidak. Warna buluku, bukan hanya putih. Terdapat warna coklat muda di atas putihnya. Dimana aku juga menjadi kelinci yang berbeda diantara mereka. Aku anak paling muda dari 7 bersaudara -terkecuali si elang yang menawan-, dan sang anak elang itu menjadi adik kami bertujuh.
Tiga warna pada bulunya, hitam, cokelat bercampur putih seperti milik kami, yang membuatnya terlihat menawan. Paruhnya gagah dan matanya tajam sekali. Ibuku merawatnya dan memberinya kasih juga sayang sama seperti ia memberikannya pada kami, anak kandungnya. Kami mulai belajar memakan makanan yang seharusnya kami makan, tanaman untuk kami, dan daging untuknya. Tapi kami tidak menganggapnya asing atau berbeda. Kami belajar berjalan, berlari bersama, -saat itu ia belum bisa mengepakkan sayapnya-. Ia dan aku sangat dekat, lebih dari kakak-kakakku. Mungkin kami sama-sama yang termuda. Kami sering menghabiskan waktu bersama, sekedar berjalan-jalan bersama, atau melakukan pertengkaran kecil yang di akhiri tawa kami berdua.
Hari itu hari dimana ibuku mengajarkannya mengepakkan sayapnya. Ibuku tidak mau ia terlihat cacat karena ia belum bisa mengepakkan sayapnya, sementara seharusnya seusianya sudah dapat mengepakkan sayapnya. Seharian itu ibu dan Bee -namanya-, berlatih keras. Dan dua hari kemudian, ia sudah dapat terbang mencapai benda putih melayang di atas sana. Semenjak saat itu, ia dan aku jarang menghabiskan waktu berdua. Dia asik terbang bersama kawanannya dan aku harus membantu kakak-kakakku juga Ibuku. Tapi, kami bersyukur ia masih pulang ke rumah.
Sampai saat itu adalah musim semi setelah musim salju yang sangat panjang, kami yang berbulu keluar dari sarang, menyudahi hibernasi kami. Bee juga keluar dan merenggangkan sayapnya yang lebar itu. Tak lama, datang sekumpulan elang lewat diatas pohon temat kami tinggal, melesat kedalam hutan. Dan saat itu, tanpa mengucapkan apapun, Bee mengepakkan sayapnya dan terbang mengikuti mereka. Hingga saat ini, ia belum kembali. Saat itu aku berharap ia setidaknya menoleh kepada kami, jika memang ia inginkan pergi. Tapi, tanpa kata tersirat maupun tersurat, ia pergi meninggalkanku.
Kami semua merindukannya. Aku merindukannya. Seperti saat kami masih di dalam perut ibu kami, atau ia masih di dalam telur. Aku rindu rasa hangat dan nyaman di hati tanpa harus memikirkan apapun. Seperti kami merindukan matahari di musim dingin yang sangat panjang. Seperti kami merindukan musim semi di saat musim kemarau. Tiap waktu tersulam benang-benang kerinduanyang menyusup dalam hati. Tapi rasanya rindu ini layaknya bulan dan matahari, seterang-terangnya mereka, tidak pernah sampai untuk saling berucap rindu.
Aku takut. Takut sekali. Adakah disana memiliki rasa takut untukku? Adakah disana, merindukanku? Adakah disana setia menunggu kepulanganku dikala aku pergi?



