Rabu, 22 Agustus 2012

Kupu-Kupu Tak Berkepak

Aku tau bahwa buku itu telah terisi. Aku tahu tiap kertas putihnya tergores tinta ceritamu setiap harinya. Dan pasti ada seseorang yang menjadi bagian awal dan akhir di setiap chapternya. Bukan tinta hitam yang terukir jelas tulisan khas tanganmu, namun juga tinta merah, biru, jingga, kuning, merah muda, biru muda, hijau, mungkin pula hitam. Walau aku tidak dapat membaca apa yang tertulis di buku milikmu, aku tau kamu terus menulis diatas benda tipis berwarna putih itu. Semua cerita tumpah disana. Aku tidak terlalu peduli apakah ada aku terbesit dipikiranmu akan namaku dan sudi menulisnya disana, aku tetap terus melihatnya. Aku memang tidak tau apa yang terurai disana, tapi tentulah bukan tentang aku. Aku tau tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membuat sesuatu berubah menjadi lebih baik ⎯soal perjalanan ini. Perjalanan yang belum diketahui kapan aku akan sampai tempat berlabuh. Atau mungkin, akankah aku sampai pada tempat itu?

Rasanya baru saja kemarin aku memulai perjalananku, baru kemarin rasanya kamu selalu mengisi awal dan akhir tiap chapter ceritaku, ternyata semua sudah berlangsung cukup lama. Kaki-kaki ini tidak semulus pertama kali ia menginjakkan kakinya di tanah. Telapak dan jemari-jemari itu sudah akrab dengan struktur tanah yang kasar dan penuh bebatuan⎯yang entah kecil atau besar. Epidermis itu sudah terbiasa dengan suhu dan tingkat kepadatannya. Kamu tau artinya? Berarti kaki itu suda berjalalan jauh dan sudah mengalami banyak pelajaran. Namun yang menjadi pertanyaan, sudahkah ia belajar? Mungkin kadang kali menginjak kerikil kecil, terluka, atau terhalang batu besar. Tapi apa itu dijadikannya penghalang?

Ia terluka, mengeluarkan darah⎯atau sering kali pendarahan didalam⎯ dan kemudian luka itu diobati atau terobati. Tapi sebenarnya luka itu tidak pernah betul-betul sembuh. Luka itu akan menimbulkan goresan kecil dan menjadi bekas di lapisan teratas kulit itu. Seperti kata pepatah, jika kau memecahkan gelas kaca yang menampung air, kemudian kamu membetulkannya, gelas cantik itu tidak akan pernah kembali seperti sedia kala.

Bagaimana rasanya menjadi yang salah, disalahkan, atau berada di posisi yang salah?
Pernahkah kamu memanggil-manggil mereka yang kamu kenal, sayang dan percaya, tapi bahkan mereka menoleh saja tidak?
Bagaimana rasanya dinomer-sekiankan oleh orang yang kamu nomer satu-kan?
Bagaimana rasanya berdiri diseberang dan melihat orang tersayang tertawa bahagia tanpa kita, saat rasanya kita sudah tidak dapat membuat bibir itu menyunggingkan senyum terbaiknya?
Bagaimana rasanya menjadi orang yang mengecewakan perasaan orang lain?
Bagaimana mengatasi orang yang telah kamu kecewakan hatinya?
Percayakah kamu akan takdir? Atau sebenarnya takdir telah mengikat segelintir orang sejak mereka pertama kali bertemu?
Atau bagaimana bila kamu sedang menentang takdir yang digariskan padamu?
Bagaimana rasanya dipermainkan oleh takdir, seperti layaknya hujan dan teduh? Mereka ditakdirkan bertemu, bersinggungan, tapi mereka tidak bersama dalam perjalanan. Atau seperti ombak dan buih yang juga punya sama cerita dengan hujan dan teduh.

Rasanya memang tidak menyenangkan seperti itu, tapi tidak selalu. Allah menyandingkan kesulitan dengan kemudahan, kesedihan dengan kebahagiaan, dan seterusnya. Mungkin makhlukNya-lah yang kurang bersyukur atas limpahan rezekiNya. Melelahkan memang harus tersenyum dalam tangis, terisak dalam diam. Pilu rasanya saat kamu tidak bisa membagi kesulitan itu pada siapapun, sekalipun kamu punya orang-orang yang siap mendengarkan kisahmu. Kamu ingin menangis, tapi rasanya tidak bisa. Kamu ingin menutupinya dengan bahagia, tapi hatimu tidak mau. Saat-saat menggetarkan seperti itu, yang diinginkan hanya secercah harapan, sebait tawa-canda dan satu pelukan hangat dari yang tersayang.

Bagaimanapun, meski kupu-kupu itu tidak memiliki kepakan sayap yang menempel pada tubuh mungilnya, ia tetap akan pulang pada peraduannya. Tetap akan terus ada cerita dibalik segala sesuatu hal. Bahkan hal kecil seperti abjad dan huruf atau sekedar senyum simpul.

What i've seen and heard is the reason why me be like this now

Rabu, 15 Agustus 2012

Adu Domba Lebah Berdengung

Kalau saja Allah dan syetan tidak punya perjanjian bahwa syetan boleh mengusik hidup manusia ⎯menurut ceramah yang aku dengar seperti itu⎯ mungkin rangkaian bunga itu akan tetap terus cantik terpatri dalam vas bunga berisi air dan batu kerikil seputih porselen di dalamnya. Tetap berdiri tegak diatas meja kaca mungil di antara vas-vas lain.

Dulu mereka itu dua insan berbeda jenis kelamin yang cukup dekat. Berbagi cerita dan pengalaman. Saling bertukar pikiran dan kesukaan. Berkomentar dan saling memberi tanggapan tentang sulit mudahnya perjalanan yang dilalui. Saling membuat satu sama lain tertawa.
Tapi, tahukah kamu bahwa seseorang itu tidak pernah sendiri, ia pasti memiliki pasangan yang telah di gariskan oleh yang Maha Kuasa. Begitu pula dengan kebahagiaan. Kebahagiaan itu bersanding dengan kesedihan, sayang. Tawa itu bersanding dengan lara, dan senyum itu bersanding dengan luka.

Dahulu, mereka bergandeng tangan erat mengitari bayangan matahari dengan tawa canda di wajah mereka. Dahulu mereka mengitung seberapa banyak bintang yang dapat mereka hitung. Dahulu mereka menari dibawah hujan dan tetap bertemu dalam mimpi mereka.

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari


Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah



Ingat dengan cuplikan lirik lagu itu? Ya, mereka memang sangat dekat dan hangat. Mengalahkan sinar mentari. Dua insan yang memiliki tolak belakang sifat dan sikapnya itu dapat bekerja sama menjadi rangkaian kepangan yang cantik. Kerap kali ada perbedaan, di situlah mereka makin terjerat satu sama lain.

Sampai suatu ketika hal yang tidak pernah terbayang dalam pikir mereka adalah kesedihan tertiup awan dan bernaung diantara mereka. Kesalahan demi kesalahan membuat mereka melepaskan pegangannya. Satu jari, dua jari, tiga jari, hingga jari terakhir.
Kamu tau apa yang membuat mereka melepaskan pegangannya? Karena keduanya terhasut bisikan lebah berdengung yang membicarakan hal-hal yang salah.

Kamu tau apa yang dilakukan oleh lebah itu? Ia membicarakan tentang bunga Lily kepada . Dan ia juga membicarakan tentang si B kepada si A. Saya sebagai author juga tidak mengetahui maksud dan tujuannya. Tapi satu yang saya tahu, ada yang teradu domba disini. Muncullah rasa dengki di dalam hati keduanya. Tapi salah satu dari mereka jauh lebih merawat rasa dengkinya itu. Hingga kedengkian hati itu tumbuh terus berakar dan memecahkana vas cantik yang menopang sekuntum bunga Tulip dan Anggrek itu. Benar-benar kharakter yang berbeda, kan?

kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang


Sang Tulip mencoba menanyakan kepada Anggrek, apa benar yang dibicarakan lebah itu adalah suatu kenyataan? Namun sang Anggrek tetap menutup diri. Ia tak menghiraukan panggilan sayu dari sang Tulip. Akhirnya sang Anggrek melangkahkan kakinya keluar dari vas cantik itu melenggangkan kakinya berjalan entah kemana. Semua jadi tak jelas adanya. Namun Allah berkata lain, Ia menempatkan posisi sang Anggrek berada di dekat Tulip sekali lagi.

Tidakkah kau lihat bahwa kamu punya garis takdir yang bersinggungan dan berjalan searah dengannya? Mau sampai kapan kamu menjadi tuna rungu dan tuna netra begitu? Tidakkah kamu mau memperbaiki apa yang telah rusak itu? Memang, sesuatu yang sudah pecah apabila di perbaiki tetap saja terlihat garis retakkannya. Tapi apakah menjadi sesuatu yang lebih salah dari pada tidak memperbaikinya sama sekali?
Jadi mengapa kamu harus meragukan hati insan yang telah lama kamu kenal dan mengenalmu? Mengapa kamu lebih mendengarkan lebah berdengung yang akhirnya membuat kamu tuna rungu dan tuna wisma? Beginikah cara kamu berbahagia? Tidakkah kamu mendengar suara hatinya yang terus menerus memanggilmu? Mengapa suara hati? Karena pita suaranya sudah tercekat memanggilmu tanpa hasil. Tidakkah kamu tengok barang sedikit kedalam hatimu, siapa yang berada disana dikala hari-hari beratmu? Siapa yang dulu mengajarkanmu mengenal sinar mentari hai Anggrek bulan?

Kamu tau tidak kenapa manusia punya tiga mata yang bepasang pasangan? Karena kedua mata kaki kita seperti membiarkan kita menuntun langkah kaki kita. Kedua mata kepala agar dapat melihat jalan yang akan dipilih. Dan mata hati agar kita dapat melihat hal yang sesungguhnya. Percuma kan kalau sudah berjalan dan memilih jalan tapi salah pilih? 

Kalau Allah sudah mengatakan akan begitu, ya akan begitu. Man jadda wa jada. Layaknya sesuatu yang hilang, kalau di takdirkan memang milik kita atau masih rezeki kita, Allah akan mengembalikannya pada kita. Tapi saat sesuatu itu hilang tapi itu bukan seharusnya milik kita, akan tetap hilang juga. Walau kita sudah menyewa detektif sekalipun. Itu dia gunanya mata hati, melihat siapa yang tulus, siapa yang ada maksud. Mana yang benar, mana yang salah dan mana yang tipu muslihat. Kita itu harus hati-hati dalam melangkah. Kenapa? Karena sebenarnya yang membuat kita jatuh itu bukan batu-batu besar yang menghalangi kita, tapi batu-batu kecil yang menyandung kita.

Sejinak-jinaknya singa, di dalam dirinya tetap ada jiwa pemburu d pemangsa. Seberubah-berubahnya manusia, sifat aslinya tetap nyata adanya. Jadi ya dilatih makan daging iris, tetap ada rasa ingin makan daging segar. Sifat aslinya bukan hilang, hanya terkubur dalam. Begitu juga dengan lebah berdengung yang kamu agung-agungkan, terutama dalam penyerbukan. Pernah dengar lebah itu bisa menyengat? Hasrat itulah yang terkubur didalam dirinya. Suatu saat saat kamu lengah, ia bisa saja menyengatmu. Karena sesungguhnya tidak ada lebah yang ramah di dunia nyata ini.

Berhentilah menjadi orang yang menutup mata dan telinga saat kamu di kelilingi masalah. Jadilah lebih cerdas dari orang yang memusuhi-mu dan yang berurusan denganmu. Bukan agar terlihat lebih pintar, tapi kamu harus cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah itu. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, sobat. Dan jangan pernah kamu termakan oleh omongan orang lain. Sebelum kamu membuktikannya sendiri, kamu tidak bisa men-cap itu sebuah fakta. Bagaimana kamu bisa menudingkan tuduhan orang yang telah lama kamu kenal dan mengenal kamu sebagai pembohong? Jangan jadi si bodoh yang mudah termakan omongan lain. Jangan pula menjadi si negative thinker, kamu mungkin sudah cukup membuka mata dan telinga, tapi mungkin kamu terlalu cepat menyimpulkan. Karena 'Neting is Nothing, Posting is Penting' a quote by Rizto Wisuda Senuari.

True Friend is Never Go and Never Let Go

Kamis, 09 Agustus 2012

Hak dan Kewajiban

Ibarat tanaman yah, waktu yang anda bangun baru layaknya kecambah, belum apa-apa. Banyak orang yang telah membangun waktunya lebih lama dari waktu yang anda bangun. Bukan cuma anda yang memperebutkan dan membutuhkan rezekiNya. Bukan cuma anda yang ingin berbahagia karenaNya.
Bukan cuma anda yang berusaha untuk mendapatkan terbaik milikNya. Bukan cuma anda yang berlomba-lomba mendapatkan perhatian lebih dariNya. Banyak orang yang usahanya lebih melampaui anda. Tidakkah anda berpikir bahwa bukan anda satu-satunya hal yang berkilau di dunia ini? Pada kenyataannya, yang berkilau itu belum tentu indah. Tapi yang memiliki pancaran sinar itu pasti indah. Jadi, jangan terlalu percaya diri bahwa kamu akan adalah 1st champion. Karena kamu bahkan tidak bisa membaca situasi sekitar dan memikirkan egomu sendiri.

Tentu saja semuanya sama-sama memiliki hak. Tapi hak itu pun terstruktur. Jadi tidak boleh seenak jidat dan harus cerdas menggunakan hak itu. Karena belum tentu hak di veto dapat jatuh pada nasib kita. Kalau ibarat Indonesian Idol itu, ada hak mendaftar, lolos 12 besar, juara pertama dan kedua. Terakhir, hak di veto. Mengapa saya sebut terakhir? Karena hak di veto itu terbatas untuk hal-hal tertentu saja. Jadi maksudnya adalah, hak itu terstruktur dan memiliki batas ambang. Jangan seenak jidat menggunakannya karena belum tentu kita akan mendapat hak istimewa.
Jadi bagaimana cara mendapatkan hak istimewa itu? Kita harus tau batasan dan krateria menjadi seorang yang di beri kepercayaan untuk diberi hak veto. Mmang dapat hak istimewa bukan berarti akan menjadi juara pertama atau kedua. Tapi itu menandakan sang pemberi, tau hak itu pantas untuk siapa yang menerimanya.

Dan jangan pernah menjadi kucing kampung yang suka mengambil ikan milik orang lain. Kalau memang bukan hak kita, jangan pernah memaksanya menjadi hak kita. karena sesungguhnya keterpaksaan tidaklah pernah datang dari hati. Pada dasarnya usaha dan meminta-minta itu beda tipis. Perbedaannya adalah usaha kita akan di sertai dengan tetes demi tetes keringat yang di keluar dari pori-pori bersama unsur kerja keras yang telah kita lakukan.
Sedangkan peminta-minta adalah orang yang suka mengais-ngais pada orang lain agar di kasihani di sertai tetes demi tetes air mata yang entah benar atau hanya tipu daya.
Semoga saya, kawan-kawan dekat saya, dan kalian yang membaca ini, tidak termasuk pada golongan peminta-minta. Amin...

Jangan pula menjadi kucing ras. Karena kucing ras selalu menggantungkan hidupnya pada majikannya.  Mereka juga cenderung malas dan tidak memiliki kemampuan berburu. Namun, bagaimana harga kucing ras bisa sangat mahal? Itu dikarenakan kualitas pada diri mereka dan kedisiplinan mereka yang melebihi rata-rata kucing biasa.
Maksud saya disini, janganlah kita termasuk pada golongan orang yang menggantungkan hidup kita pada orang lain. Buatlah rencana hidup kita sendiri. Jangan kita menjadi bagian dalam rencana hidup orang lain. Kecuali, kita membangun rencana itu dengan orang lain bersama-sama. Itu akan menjadi berbeda lagi ceritanya.
Kemudian, sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dibandingkan yang lain, kita harus memiliki kemampuan. Janganlah kita menjadi seperti benalu yang hanya merugikan karena kemalasannya. Tapi terkadang, hal ini dapat kita lihat pada kehidupan nyata kita. Contohnya anak-anak orang berada yang orang tuanya dititipkan rezeki lebih oleh Allah SWT namun menyalah gunakan rezeki itu, dan orang-orang berpangkat yang duduk di kursi besar mereka dengan jas dan dasi yang bagus-bagus. Beberapa dari mereka cenderung mengandalkan orang lain untuk kelangsungan hidupnya. Mereka juga lebih memikirkan diri sendiri dan melupakan kewajiban mereka. Seperti yang saya bilang sebelumnya, hak itu terstruktur dan memiliki ambang batas. Dan kewajiban adalah sesuatu yang seharusnya tidak kita tinggalkan. Semoga saya, kawan-kawan dekat saya dan kalian yang membaca ini, akan menjadi orang sukses dan bahagia kelak tanpa melupakan kaidah-kaidah yang ada. Amin ya Allah, ya Rabb-ku...

Long Big Road

Minggu, 05 Agustus 2012

Posisi Mereka Orang 'Berpangkat'

Pada kenyataannya, di tahun 2012 ini, masih banyak orang-orang kurang mampu dan anak-anak balita yang tidur di jalan raya besar DKI Jakarta. Mereka merebahkan tubuh ringkih mereka diatas tanah aspal beralaskan selembar plastik tikar yang sudah lusuh. Pakaian yang mereka gunakan sudah tidak layak dan bahkan tidak dapat melindungi mereka dari sengatan matahari dan menusuknya dingin malam hari.
Di samping tempat mereka beristirahat --dibawah pohon-- terdapat gerobak sebagai alat mereka mencari sesuap nasi setiap harinya. Tidakkah hatimu tergerak melihat mereka? Tidakkah matamu berlinang menyadari dua hal? Hal pertama adalah betapa kita harus bersyukur kepada Allah SWT karena keadaan kita jauh lebih baik dari mereka. Yang kedua, betapa pedihnya melihat saudara-saudara kita, masih ada yang tidak memiliki hidup yang cukup layak pada era sekarang ini?

Bagaimana dengan orang-orang berpangkat yang duduk dikursi besar kebanggaan mereka di ruang sejuk ber-air conditioner dengan di lengkapi makanan yang belum tentu mereka yang kurang mampu dapat bertemu makanan itu sekali dalam sebulan? Tidakkah sudah cukup besar gaji yang mereka dapat untuk membangun negara ini menjadi lebih baik? Tidakkah cukup fasilitas yang di berikan oleh negara ini untuk mereka? Lantas, untuk apa lagi mereka mencuri uang yang bukan hak-nya? Tidakkah seharusnya mereka bersyukur?

Mereka dengan pakaian rapih, ber-jas di lengkapi dasi yang menambah kesan mereka sebagai orang-orang berpangkat, meributkan berbagai macam hal dan mengenyampingkan masalah yang mereka anggap kecil. Pada dasarnya orang-orang berpangkat itu pasti tentu dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas hidup rakyat kecil yang bertebaran di Ibu Kota kita ini. Namun sayangnya, mereka terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri dan mungkin melupakan mereka yang tidak memiliki tempat yang cukup layak untuk di tinggali. Bukannya seharusnya pembangunan negara dapat dinikmati oleh seluruh warga negaranya? Bagaimana dengan mereka yang tinggal di pelosok-pelosok pulau? Bahkan yang berada di depan gedung dimana tempat mereka berkerja saja, tidak terurus keadaannya.


Mengapa semakin tinggi pangkat seseorang, semakin ia lupa akan kewajibannya dan melebihkan akan hak-nya? Mereka menjanjikan tempat yang layak untuk di tinggali, Sandang yang layak untuk melindungi tubuh mereka, dan pangan yang dapat dimakan oleh mereka. Tapi, apa itu semua telah terwujud? Apa mereka telah melunasi hutang mereka seperti janjinya? Belum.
Mengapa? Karena mereka sibuk pula menindas orang-orang yang berada di bawah mereka. Sadar atau tidak, ketika kita memiliki pangkat, dan semakin tinggi pula pangkat kita itu, ada waktu dimana kita dikuasai hal negatif yang bermulai dari menindas mereka yang berada kita hingga melupakan kewajiban kita. 


Tidakkah hati kalian tergerak melihat anak-anak kecil itu bermain di pinggiran kota Jakarta? Tidakkah hati kalian bergetar pilu ingin menolong mereka yang kelaparan dan kedinginan?


Mungkin kalau kita hanya berbicara saja itu mudah, tapi praktiknya-lah yang sulit untuk di lakukan. Mungkin saya sendiri terlalu banyak bicara, belum tentu bisa lebih baik dari pada orang-orang berpangkat yang telah ada sekarang. Tapi saya bercita-cita untuk menjadikan pandang orang-orang berpangkat dan mereka yang kurang mampu menjadi lebih baik, tanpa harus kehilangan dan melupakan tujuan dan kewajiban saya. Juga tidak melebihkan hak saya. STOP KORUPSI! Majukan derajat Bangsa!