Rasanya baru saja kemarin aku memulai perjalananku, baru kemarin rasanya kamu selalu mengisi awal dan akhir tiap chapter ceritaku, ternyata semua sudah berlangsung cukup lama. Kaki-kaki ini tidak semulus pertama kali ia menginjakkan kakinya di tanah. Telapak dan jemari-jemari itu sudah akrab dengan struktur tanah yang kasar dan penuh bebatuan⎯yang entah kecil atau besar. Epidermis itu sudah terbiasa dengan suhu dan tingkat kepadatannya. Kamu tau artinya? Berarti kaki itu suda berjalalan jauh dan sudah mengalami banyak pelajaran. Namun yang menjadi pertanyaan, sudahkah ia belajar? Mungkin kadang kali menginjak kerikil kecil, terluka, atau terhalang batu besar. Tapi apa itu dijadikannya penghalang?
Ia terluka, mengeluarkan darah⎯atau sering kali pendarahan didalam⎯ dan kemudian luka itu diobati atau terobati. Tapi sebenarnya luka itu tidak pernah betul-betul sembuh. Luka itu akan menimbulkan goresan kecil dan menjadi bekas di lapisan teratas kulit itu. Seperti kata pepatah, jika kau memecahkan gelas kaca yang menampung air, kemudian kamu membetulkannya, gelas cantik itu tidak akan pernah kembali seperti sedia kala.
Bagaimana rasanya menjadi yang salah, disalahkan, atau berada di posisi yang salah?
Pernahkah kamu memanggil-manggil mereka yang kamu kenal, sayang dan percaya, tapi bahkan mereka menoleh saja tidak?
Bagaimana rasanya dinomer-sekiankan oleh orang yang kamu nomer satu-kan?
Bagaimana rasanya berdiri diseberang dan melihat orang tersayang tertawa bahagia tanpa kita, saat rasanya kita sudah tidak dapat membuat bibir itu menyunggingkan senyum terbaiknya?
Bagaimana rasanya menjadi orang yang mengecewakan perasaan orang lain?
Bagaimana mengatasi orang yang telah kamu kecewakan hatinya?
Percayakah kamu akan takdir? Atau sebenarnya takdir telah mengikat segelintir orang sejak mereka pertama kali bertemu?
Atau bagaimana bila kamu sedang menentang takdir yang digariskan padamu?
Bagaimana rasanya dipermainkan oleh takdir, seperti layaknya hujan dan teduh? Mereka ditakdirkan bertemu, bersinggungan, tapi mereka tidak bersama dalam perjalanan. Atau seperti ombak dan buih yang juga punya sama cerita dengan hujan dan teduh.
Percayakah kamu akan takdir? Atau sebenarnya takdir telah mengikat segelintir orang sejak mereka pertama kali bertemu?
Atau bagaimana bila kamu sedang menentang takdir yang digariskan padamu?
Bagaimana rasanya dipermainkan oleh takdir, seperti layaknya hujan dan teduh? Mereka ditakdirkan bertemu, bersinggungan, tapi mereka tidak bersama dalam perjalanan. Atau seperti ombak dan buih yang juga punya sama cerita dengan hujan dan teduh.
Rasanya memang tidak menyenangkan seperti itu, tapi tidak selalu. Allah menyandingkan kesulitan dengan kemudahan, kesedihan dengan kebahagiaan, dan seterusnya. Mungkin makhlukNya-lah yang kurang bersyukur atas limpahan rezekiNya. Melelahkan memang harus tersenyum dalam tangis, terisak dalam diam. Pilu rasanya saat kamu tidak bisa membagi kesulitan itu pada siapapun, sekalipun kamu punya orang-orang yang siap mendengarkan kisahmu. Kamu ingin menangis, tapi rasanya tidak bisa. Kamu ingin menutupinya dengan bahagia, tapi hatimu tidak mau. Saat-saat menggetarkan seperti itu, yang diinginkan hanya secercah harapan, sebait tawa-canda dan satu pelukan hangat dari yang tersayang.
Bagaimanapun, meski kupu-kupu itu tidak memiliki kepakan sayap yang menempel pada tubuh mungilnya, ia tetap akan pulang pada peraduannya. Tetap akan terus ada cerita dibalik segala sesuatu hal. Bahkan hal kecil seperti abjad dan huruf atau sekedar senyum simpul.
![]() |
| What i've seen and heard is the reason why me be like this now |


