Dulu mereka itu dua insan berbeda jenis kelamin yang cukup dekat. Berbagi cerita dan pengalaman. Saling bertukar pikiran dan kesukaan. Berkomentar dan saling memberi tanggapan tentang sulit mudahnya perjalanan yang dilalui. Saling membuat satu sama lain tertawa.
Tapi, tahukah kamu bahwa seseorang itu tidak pernah sendiri, ia pasti memiliki pasangan yang telah di gariskan oleh yang Maha Kuasa. Begitu pula dengan kebahagiaan. Kebahagiaan itu bersanding dengan kesedihan, sayang. Tawa itu bersanding dengan lara, dan senyum itu bersanding dengan luka.
Dahulu, mereka bergandeng tangan erat mengitari bayangan matahari dengan tawa canda di wajah mereka. Dahulu mereka mengitung seberapa banyak bintang yang dapat mereka hitung. Dahulu mereka menari dibawah hujan dan tetap bertemu dalam mimpi mereka.
Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Ingat dengan cuplikan lirik lagu itu? Ya, mereka memang sangat dekat dan hangat. Mengalahkan sinar mentari. Dua insan yang memiliki tolak belakang sifat dan sikapnya itu dapat bekerja sama menjadi rangkaian kepangan yang cantik. Kerap kali ada perbedaan, di situlah mereka makin terjerat satu sama lain.
Sampai suatu ketika hal yang tidak pernah terbayang dalam pikir mereka adalah kesedihan tertiup awan dan bernaung diantara mereka. Kesalahan demi kesalahan membuat mereka melepaskan pegangannya. Satu jari, dua jari, tiga jari, hingga jari terakhir.
Kamu tau apa yang membuat mereka melepaskan pegangannya? Karena keduanya terhasut bisikan lebah berdengung yang membicarakan hal-hal yang salah.
Kamu tau apa yang dilakukan oleh lebah itu? Ia membicarakan tentang bunga Lily kepada . Dan ia juga membicarakan tentang si B kepada si A. Saya sebagai author juga tidak mengetahui maksud dan tujuannya. Tapi satu yang saya tahu, ada yang teradu domba disini. Muncullah rasa dengki di dalam hati keduanya. Tapi salah satu dari mereka jauh lebih merawat rasa dengkinya itu. Hingga kedengkian hati itu tumbuh terus berakar dan memecahkana vas cantik yang menopang sekuntum bunga Tulip dan Anggrek itu. Benar-benar kharakter yang berbeda, kan?
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang
Sang Tulip mencoba menanyakan kepada Anggrek, apa benar yang dibicarakan lebah itu adalah suatu kenyataan? Namun sang Anggrek tetap menutup diri. Ia tak menghiraukan panggilan sayu dari sang Tulip. Akhirnya sang Anggrek melangkahkan kakinya keluar dari vas cantik itu melenggangkan kakinya berjalan entah kemana. Semua jadi tak jelas adanya. Namun Allah berkata lain, Ia menempatkan posisi sang Anggrek berada di dekat Tulip sekali lagi.
Tidakkah kau lihat bahwa kamu punya garis takdir yang bersinggungan dan berjalan searah dengannya? Mau sampai kapan kamu menjadi tuna rungu dan tuna netra begitu? Tidakkah kamu mau memperbaiki apa yang telah rusak itu? Memang, sesuatu yang sudah pecah apabila di perbaiki tetap saja terlihat garis retakkannya. Tapi apakah menjadi sesuatu yang lebih salah dari pada tidak memperbaikinya sama sekali?
Jadi mengapa kamu harus meragukan hati insan yang telah lama kamu kenal dan mengenalmu? Mengapa kamu lebih mendengarkan lebah berdengung yang akhirnya membuat kamu tuna rungu dan tuna wisma? Beginikah cara kamu berbahagia? Tidakkah kamu mendengar suara hatinya yang terus menerus memanggilmu? Mengapa suara hati? Karena pita suaranya sudah tercekat memanggilmu tanpa hasil. Tidakkah kamu tengok barang sedikit kedalam hatimu, siapa yang berada disana dikala hari-hari beratmu? Siapa yang dulu mengajarkanmu mengenal sinar mentari hai Anggrek bulan?
Kamu tau tidak kenapa manusia punya tiga mata yang bepasang pasangan? Karena kedua mata kaki kita seperti membiarkan kita menuntun langkah kaki kita. Kedua mata kepala agar dapat melihat jalan yang akan dipilih. Dan mata hati agar kita dapat melihat hal yang sesungguhnya. Percuma kan kalau sudah berjalan dan memilih jalan tapi salah pilih?
Kamu tau tidak kenapa manusia punya tiga mata yang bepasang pasangan? Karena kedua mata kaki kita seperti membiarkan kita menuntun langkah kaki kita. Kedua mata kepala agar dapat melihat jalan yang akan dipilih. Dan mata hati agar kita dapat melihat hal yang sesungguhnya. Percuma kan kalau sudah berjalan dan memilih jalan tapi salah pilih?
Kalau Allah sudah mengatakan akan begitu, ya akan begitu. Man jadda wa jada. Layaknya sesuatu yang hilang, kalau di takdirkan memang milik kita atau masih rezeki kita, Allah akan mengembalikannya pada kita. Tapi saat sesuatu itu hilang tapi itu bukan seharusnya milik kita, akan tetap hilang juga. Walau kita sudah menyewa detektif sekalipun. Itu dia gunanya mata hati, melihat siapa yang tulus, siapa yang ada maksud. Mana yang benar, mana yang salah dan mana yang tipu muslihat. Kita itu harus hati-hati dalam melangkah. Kenapa? Karena sebenarnya yang membuat kita jatuh itu bukan batu-batu besar yang menghalangi kita, tapi batu-batu kecil yang menyandung kita.
Sejinak-jinaknya singa, di dalam dirinya tetap ada jiwa pemburu d pemangsa. Seberubah-berubahnya manusia, sifat aslinya tetap nyata adanya. Jadi ya dilatih makan daging iris, tetap ada rasa ingin makan daging segar. Sifat aslinya bukan hilang, hanya terkubur dalam. Begitu juga dengan lebah berdengung yang kamu agung-agungkan, terutama dalam penyerbukan. Pernah dengar lebah itu bisa menyengat? Hasrat itulah yang terkubur didalam dirinya. Suatu saat saat kamu lengah, ia bisa saja menyengatmu. Karena sesungguhnya tidak ada lebah yang ramah di dunia nyata ini.
Berhentilah menjadi orang yang menutup mata dan telinga saat kamu di kelilingi masalah. Jadilah lebih cerdas dari orang yang memusuhi-mu dan yang berurusan denganmu. Bukan agar terlihat lebih pintar, tapi kamu harus cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah itu. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, sobat. Dan jangan pernah kamu termakan oleh omongan orang lain. Sebelum kamu membuktikannya sendiri, kamu tidak bisa men-cap itu sebuah fakta. Bagaimana kamu bisa menudingkan tuduhan orang yang telah lama kamu kenal dan mengenal kamu sebagai pembohong? Jangan jadi si bodoh yang mudah termakan omongan lain. Jangan pula menjadi si negative thinker, kamu mungkin sudah cukup membuka mata dan telinga, tapi mungkin kamu terlalu cepat menyimpulkan. Karena 'Neting is Nothing, Posting is Penting' a quote by Rizto Wisuda Senuari.
![]() |
| True Friend is Never Go and Never Let Go |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar