Bagaimanapun, tidak ada manusia yang terus menerus hidup dalam gelungan kepura-puraan. Dan aku tau bahwa aku sama dengan jiwa setiap insang yang kian lama terlihat merayap di bumi ini.15 tahun bukan waktu yang sebentar dalam perjalanan hidup, sudah cukup lama, bagiku. Dan sudah banyak kebahagiaan yang aku temui dan miliki. Ada yang sudah saatnya berhenti, ada yang masih berlanjut dan bahkan ada yang tetap tinggal walau kebahagiaan itu tidak punya alasan lagi. Allah mengujiku di awal tahun 2011 yang dalam hitungan jam akan berganti dengan 2012. Tepat di hari ulang tahunku yang ke 15, Ia mengenalkanku pada seseorang yang aku gagal melewati ujianNya. Ujian yang cukup singkat mengingat hanya 4 bulan aku di berikan kesempatan untuk merasakan bahagia di awal tahun. Sampai aku merasa bahwa itu hanya kebahagiaan semu yang aku yakin itu hanya sebentar. Dan di sinilah aku gagal dalam ujianku. Aku merasa di uji untuk merasa bersyukur atas apa yang ia sempat titipkan padaku. Namun, rasa ingin lebih yang terkubur jauh di dalah diri setiap insang memang bisa hadir kapan saja. Dan kemudian aku gagal pada ujianku yang pertama.
Dan aku duduk di tepi laut sekarang, ditemani angin laut yang menusuk punggung hingga masuk ke tulang, bersama bintang-bintang dan bulan sabit yang memberikan cahaya terang malam ini. Aku tau, rasa ingin lebih itu bukanlah akhir dari kegagalanku. Namun awal mula ujianku yang kedua. Namun ternyata karma memang ada, pembaca. Allah memberikanku banyak sekali kesempatan di tahun ini, rasanya kebahagiaan benar-benar mengelilingiku sekalipun harus tertusuk depan belakang. Dan ternyata, aku mendapatkan karmaku dan mendapatkan kegagalanku yang ke dua. Aku sudah letih dan aku tau aku takkan mampu mendaki gunung kilimanjaro sendirian, namun masih ada asa di hatiku yang menguatkanku bahwa "tak ada yang bisa membantumu, kecuali dirimu sendiri," bisik hatiku.
Ditengah kegagalan dan karmaku, aku menemukan setitik kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, di karenakan orang asing. Bahkan, tadinya aku sempat tidak berniat akan berteman dengan mereka. Namun sekarang, hatiku menyebut mereka sahabat.
For the way you change my plans...
For being the perfect distraction...For the way you took the idea that i have,
Of everything that i wanted to have.
and made me see, there was something missing...
Entah bagaimana, aku merasa menemukan semangat baru, jalan kebahagiaan yang berbeda. Entahlah bagaimana semua sampai berjalan sangat lancar. Mereka membuatku lebih bersemangat ketika mereka di dekatku. Membuatku merubah jalan hidupku. Tapi bukan berarti persahabatan kami semulus arena balapan mobil, cukup banyak yang menggunjing kami di belakang, bahkan beberapa menunjukkannya langsung di depan kami. Aku sangat bersyukur dengan hantaman batu-batu yang tidak bisa di bilang kecil itu, malah mempererat persahabatan kami.
Beberapa bulan berlalu, aku tau Allah menguji kami. Namun sayangnya, beberapa ujianNya memang lebih berat dari yang sebelum-sebelumnya. Bahkan rasanya garis yang memisahkan kami semakin membentang dan jemari-jemari tidak lagi mampu meraih jemari lainnya. Dan aku mulai sadar, ada yang hilang dari hidupku.
For the rare and unexpected friend
At the same time, something i dont wanna lose.
My accidental happily (ever after)
undeniably happier
Dan malam ini, aku memejamkan kelopak mataku. AKu nyaris kehilangan salah satu dari mereka. Entah bagaimana ini bisa terjadi, dan aku juga tidak tau apakah masih bisa semuanya kembali seperti dahulu? Aku tidak berniat sama sekali untuk kehilangan mereka. Karena mereka adalah kawanku yang paling berbeda dari kawanku yang lainnya. Mereka membuat kebahagiaan muncul tanpa di rencanakan. Dan aku tidak akan pernah bisa menolak kebahagiaan yang mereka berikan.
Terpikir sejenak, selemah itukah kami? Lalu, apa arti dari semua yang sudah kita lalui bersama? Dimana aku bisa menemukan kawan seperti kalian? -Littlefoot, on The land Before Time-







