Kamis, 15 Desember 2011

Titanic-ku

Ya Allah, terima kasih Engkau sempat biarkan aku berlabuh, melabuh, dah di labuhkan. Titanic-ku, padanya aku berlabuh, melabuh dan di labuhkan dalam lingkup kehidupan. Tak pernah ku kira bahwa Titanic-ku lah yang akan menjadi guru dan pembimbing hidupku. Semuanya berjalan baik seiring waktu. Gejolak dan getaran, mau pelan atau keras, aku lewati bersama-sama. Semuanya berjalan baik-baik saja, badai bukan penghalang untukku menaiku Titanic-ku.

Aku tak tau bahwa sekarang aku telat menaiki Titanic-ku. Sebelumnya, aku belum pernah telat walaupun aku buta. Buta, bahwa warna-warna sepia di balik cover kebahagian kian membesar di belakangku. Dan ketika aku dapat melihat pelangi itu terpancar, aku terlambat. Tapi memang seharusnya terlambat menaiki titanic-ku, untuk sekarang. Sekarang, bukan waktu yang cukup tepat untuk mengejarnya dengan speedboat, karena sangat tidak berguna. Ya, aku tau itu.

Segala tiap patah kata yang ingin ku ucapkan untuknya, untuk sekarang, adalah selamat jalan titanic-ku. Aku tau kamu akan melewati samudra nan luas itu. Dan jangan jadi sama karamnya dengan bahtera yang tenggelam itu. Aku tidak mau kamu jadi sama bodohnya dengan sang nahkoda. Aku tidak mau kamu jadi sama sombong dan egoisnya dengan penumpang-penumpang itu. Dan aku tidak mau kamu jadi sama persis dengan bahtera yang tenggelam menabrak bongkahan es dan karam di
bawah laut. Jangan biarkan bahagia membutakanmu. Dan membuatmu karam seperti bahtera itu.

 Ku harap, nanti akan ada saatnya kembali aku menaiki titanic-ku dengan segala mata yang terbuka. Tidaklah lagi buta. Tetap berjalan seiringan, menyadari lampu sepia di belakang dan tetap menjaga jarak dari hitam & putih.

                                                                                                                          
                                                                                                                  By Amigo Eigen Drizzle☺

Tidak ada komentar:

Posting Komentar