Jumat, 16 Desember 2011

Abstrak


Aku, akulah pencipta ukiran tak bertujuan itu, sampai terbentuk gambar dan ukiran nama SARS dan kuberi hiasan cantik di sana sini. Sekedar meramaikan suasana dan menambah nilai plus dalam penilaian keindahan, tentunya. Tak terlalu indah di mataku. Berarti, namun tak membuat hatiku bergetar ketika au menyelesaikan gambari itu dan meletakkan pensil isi biruku di atas meja.
Sampai aku memasangnya sebagai background laptop kesayanganku. Masih belum membuatku bergetar dan sadar akan makna sebenarnya.

Sampai suatu ketika Sarah Shafira melihat background itu dan menjadikan kami terlibat dalam sebuah dialog sederhana. "Sar, bagus gak?" Tanyaku padanya, yang memang bertujuan meminta pendapatnya.
"Bagus shin, lo yang buat kan ya?" Tanyanya. "Iya dong. hehe" Responku. "Eh Shin kok gue ngeliatnya jadi sedih ya?"  Aku tak menyangka satu kalimat yang meluncur dari mulutnya membuatku mengerti makna ukiran abstrak yang ku buat ini. Ada perasaan aneh menyerangku ketika aku melihat backgroundku kembali. Rasanya bergejolak dan segala tiap inci, setiap potongan kecil memori, bahkan yang nyaris terlupakan, bercampur aduk dan membuatku terdiam.

'Adakah kita bisa seperti dulu? Seperti kita menemukan mainan kesayangan kita. Berkumpul, tertawa, canda, senyum bahkan tingkah laku bodoh dan sedih juga tak lupa. Ketika kita membuat hal kecil menjadi hal besar, hal pendek menjadi panjang, yang terdengar membosankan menjadi memabukkan.'

Kawan-kawan, aku rindu pada kalian. Saat-saat bodoh dan keseriusan kita. Dimana di setiap pertemuan ada senyum dan semangat memancar. Walau aku tau bodoh mengakui merindukan kalian, kalian kan selalu ada di dekatku. Tetapi bukan itu yang aku maksud, aku merindukan dulu. Mungkin yang aku dan Sarah rasakan, satu persamaan yang tak terungkapkan. 

Semoga sehat-sehat dan bahagia selalu ya, Sarah Shafira, Alif Oktafian, Rizto Wisuda Senuari :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar