Selasa, 26 Juni 2012

Berbeda

Being Different Is Not Always Mean Being Strange


Tidak ku sangka, orang yang memupuk semangatku adalah orang yang sama dengan orang yang mematahkan kedua sayapku. Mungkin kalian jarang melihatku berada di sekitar kalian. Bahkan hampir tidak pernah. Karena aku hanya sesosok manusia kecil yang tidak terlalu kasat mata. Dulu aku terbang bebas di atas sana, sama seperti kawan-kawanku yang tengah menikmati sepoian angin sore ini. Sedangkan aku duduk di tepian menggantungkan kakiku di sebuah papan di dekat tepi laut ini. Kuresapi bagaimana dinginnya air laut sore yang menyentuh jemari kakiku yang tanpa menggunakan alas itu. Kemudian ku rebahkan tubuhku di papan itu. Pandanganku melesat keatas menikmati indahnya sore ini. 'Andaikan saja aku masih bisa ikut dengan kawan-kawanku di atas sana', bisikku pelan pada angin yang menerpaku.

Beberapa hari yang lalu, baru saja aku benar-benar kehilangan kedua sayapku. Tidak lagi bisa terbang tentunya. Beberapa minggu lalu, sayap itu sempat patah, namun sosok itu membantuku menyembuhkan dan memulihkannya lagi. Setelah beberapa hari, aku mampu terbang lagi bersama kawan-kawanku di atas sana. Ketika badai menerpa kami, kami segera mencari tempat berteduh. Aku tidak mau usaha yang sudah ia berikan, terbuang karena terpaan angin hebat itu. Tapi takdir berkata lain. Disaat aku berusaha menyelamatkan hal-hal yang sangat berharaga untukku di tengah badai, tiba-tiba benda besi merayap diatas tanah beroda empat itu datang cepat bagaikan kilat. Manubruk tubuh kecilku tak berdaya tergeletak di kaca depan mobil itu. Ia, bahkan sama sekali tidak menyadari keberadaanku di sana. Bagaimana ia bisa menyadari telah menyakitiku?

Hujan bertambah deras dan aku dapat merasakan benda besi itu bergerak lebih cepat. Tubuhku berasa remuk tak bisa ku angkat untuk sekedar duduk saja. Sampai akhirnya aku menyadari mobil yang telah menabrakku berhenti di bawah pohon dan tidak bergerak lagi. Namun bunyi deru mesin masih terasa, lagi terdengar. Ku kerahkan seluruh tenagaku dan tubuhku mulai bergerak. Ku kerjapkan mataku agar dapat melihat lebih jelas karena hujan itu. Ku dengar dengan samar ia berbicara dengan orang lain di dalam sana. Orang lain itu terlihat cantik menggoda. 'Sepertinya aku akan jatuh pingsan', pikirku yang kian lama kian menutup mata. Dan akupun terlelap hingga sang fajar membangunkanku. Dan aku terkejut ketika sesosok keluar dari dalam mobil itu. Ia... Ia adalah orang yang telah memperbaiki sayapku kemarin.

Tapi tak apa, waktu tak dapat di putar. Tak ada yang yang boleh ku sesali. Mungkin menjadi berbeda itu jalanku. Tak ada salahnya juga kan, menjadi yang berbeda? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar