"Di bagian mana yang dapat di katakan persahabatan? Dia bahkan lebih percaya orang lain ketimbang seseorang yang ia sebut sahabat itu. Bahkan lebih percaya orang yang pernah menjadi musuhnya ketimbang orang yg ia sebut sahabat itu. Jadi masih ada alasan untuk tetap tinggal?"
Ada atau tidaknya sebuah alasan untuk tetap tinggal itu relatif. Selalu ada alasan. Yang jadi masalah adalah, masih adakah alasan tersebut? Bahkan alasan-alasan yang hadir membuat kita tetap tinggal belumlah tentu baik. Hal yang tidak aku mengerti adalah, jika kita pernah menemukan alasan untuk mengenalnya lebih dekat dan mengijinkannya masuk ke hidup kita lebih dalam, kemudian beberapa hatta kemudian kita sudah tidak bisa menemukan alasan tersebut, apa yang harus saya lakukan?
Seseorang yang pernah dekat sekali dengan saya pernah berkata "Tapi ada kala kita tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal" dan kemudian saya menjawabnya dengan "Bukannya tidak memiliki, namun belum menemukan alasan untuk tetap tinggal". Jadi apakah yang di maksudkan dengan saya dalam percakapan tersebut? Akankah saya hanya saja belum menemukan lagi alasan untuk tetap tinggal dan mengarungi setiap detail waktu yang mengalir?
Mengertilah, saya sangat sedih mengingat orang-orang yang pernah sangat dekat, orang orang yang sering saya tinggikan dan sering kali saya utamakan, mereka telah berubah dan sudah hilang. Mereka seakan sudah tidak pernah nampak di mata saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar