Sabtu, 17 Maret 2012

Aku dan Penyakitku 2

'Srek... Srek' Terpaparlah sinar matahari pagi menembus jendela ruangan menjadi partikel-partikel kecil, menelusuri ruangan 24x24 bernuansa cream dan hijau muda ini dengan hangat sinarnya.

"Sudah pagi ya nona, Ara. Bagaimana kabarmu hari ini? Apa sehangat mentari hari ini?" Seorang perempuan berparas manis tinggi semampai ini adalah orang pertama yang menyapaku ramah di pagi ini. Kemudian ku lihat ia perlahan melangkah menghampiriku dan menaruh nampan yang di atasnya terdapat semangkuk bubur, segelas susu, segelas air putih dan beberapa butir obat, di atas meja makan khusus yang sudah ku gunakan 1 bulan belakangan ini.

"Hangatnya mentari pagi ini belum mampu mencairkan dinginnya permukaan kulitku ini, suster." Jawabku pelan nyaris tak terdengar, apabila ruangan ini tidak sehening pagi ini.

"There's sunshine after the storm, honey. Just be brave to face it. You're not alone, because i'm here, they're here and the important thing is Allah always with you. Ok? Keep go on and spirit!" Suster yang jarang memoles wajahnya dengan make up itu sering memberiku semangat dan menjadi motivator tersendiri untukku. Ia selalu ramah dan memperlakukanku seperti layaknya seorang adiknya sendiri.

Ku anggukkan kepalaku sedikit dan ku sunggingkan senyum tipis, tanda aku dapat menangkap apa yang ia maksudkan. Kemudian ia belai rambutku dan meninggalkanku sendiri di dalam ruangan ini. Kemarin Ibu membawakanku laptop kesayanganku sebagai hiburan untuk mnghusir kejenuhanku sejenak. Ku sign in kemudian ku sambungkan dengan wireless. 'sudah lama tidak membuka jejaringan sosial. Apa kabar ya sekolah? Apa kabarnya dia? Sahabat-sahabatku? Sedang apa ya mereka?' pintaku dalam hati. Ku urungkan niatku untuk membuka jejaringan sosial yang ku punya. Akhirnya aku lebih memilih membuka blog yang sudah ku rintis sejak tahun 2009 itu. Jadi, bagaimana sampai aku berada di posisi dan keadaan sekarang?

Aku tidak pernah percaya bahwa buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang' karya R.A Kartini yang telah ku baca setahun lalu bukanlah sekedar kata-kata. Seperti yang pernah aku ceritakan, aku bukanlah seorang anak kebanyakan yang memiliki penyakit yang terlihat mata. Penyakitku ini kasat mata. Hanya bisa di lihat melalui celah kecil dari hati yang tulus. Aku tidak tau bahwa kehidupan di sekolahku yang baru membawa bibit kebahagian pada awal mulanya. Allah membiarkanku mencicipi anugerahNya sebelum semua ini terjadi.

Saat aku menduduki bangku Sekolah Menengah Atas kelas 11 ini, aku menemukan bibit kebahagiaan yang aku tidak pernah tau akan mengembangkannya sampai sejauh ini. Saat ketika aku menemukan sebuah koloni kecil berisi 3 orang perempuan yang mampu membuatku nyaman bersama mereka, aku tidak tau aku akan memiliki orang-orang yang sangat berharga untukku. Semuanya berjalan baik-baik saja. Lalu Allah titipkan padaku kebahagiaanNya lagi. Aku bertemu pemuda bernama Kyle yang ku kenal bahwa ia adalah teman sekolah yang seangkatan denganku. Ia baik, ramah dan pengertian. Kami semakin dekat, begitu juga aku dan ketiga sahabatku. Sejujurnya aku tertarik dengannya, dan aku sedikit terkejut saat dia mengungkapkan perasaanya setahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberinya jawaban apapun. Ia juga tidak memintaku menjawabnya. Beginilah kami terus berjalan. Sejak bertemu mereka, penyakit yang pernah melubangi jiwaku semakin lama kian menghilang. Harapanku adalah semua tetap begini adanya dan menjadi lebih baik.

'Janganlah kamu berjalan di belakangku, karena aku belum tentu mampu membimbingmu ke jalan yang terbaik. janganlah kamu berjalan di depanku, karena aku tidak bisa mengikuti langkahmu. berjalanlah bersamaku, kita lalui semua bersama.'

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku, ia, mereka, kami, sudah menginjak bangku Sekolah Menengah Atas kelas 12. Tahun ini aku akan menghadapi Ujian Nasional dan Lulus. Kemudian aku akan masuk ke jenjang kuliah. Aku sudah memikirkan akan masuk ke fakultas apa. Aku sangat suka dengan bidang kedokteran, hukum dan psikolog. Aku sangat senang juga sedikit takut menghadapi hal besar ini.

Semuanya berjalan sempurna sampai waktu itu siang hari di bulan Desember, aku jatuh pingsan setelah merasakan sakit yang tak tertahankan di kepalaku. Dan selang beberapa detik sebelum aku tak sadarkan diri, aku menyadari bahwa ada darah segar keluar dari hidungku. Semua orang yang ada di lorong buku psikologi saat itu langsung menghampiri tubuhku yang tergeletak di lantai marmer perpustakaan. Ketika aku sadar, aku sudah berada di UKS dan saat itu sudah lewat satu jam jadwal sekolah bubaran pulang. Aku mencoba turun dari tempat tidur UKS dan menghampiri Ibu Frida sebagai dokter yang berjaga di UKS tersebut.
"Nak Ara, sebaiknya kamu periksa lebih lanjut ke dokter di rumah sakit besar. Minta untuk periksa lab. Ibu takut kamu ada penyakit dalam." Pinta Bu Frida padaku.
"Baik Ibu, nanti insyaAllah aku periksa ke dokter." Setelah menanggapi Bu Frida, aku kembali ke kelas dan mendapati kelas sudah kosong. Aku bergegas mengambil tasku dan menutup pintu kelas. Sore itu hujan turun di musim semi. Tidak terlalu deras, namun kalau kau bermain di bawahnya dapat membuatmu terserang flu. Aku menuruni tangga dan seketika di anak tangga ke 5 aku mendapat serangan lagi di kepalaku.  Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku dari belakang.

"Ara! Kamu kenapa? Aku tadi cariin kamu, tapi kata Bu Frida kamu ke kelas mengambil tas." Ternyata suara itu datangnya dari Kyle yang setengah berlari menghampiriku. Melihat aku merintih memegangi kepalaku, ia sedikit bingung dan khawatir. Aku dapat merasakannya dari nada bicara dan pertanyaannya.
"Kamu kenapa Ara? kapala kamu sakit? Bagian mana?" Tanyanya bertubi-tubi.
Perlahan sakit itu memudar dan hilang dengan sendirinya. Aku pun terduduk di anak tangga itu dan berusaha menormalkan nafasku kembali.
"Entahlah, Kyle. Tiba-tiba sakit ini menyerang dari seluruh bagian kepalaku." Jawabku.
"Ah, bagaimana kau ku antar pulang saja? Kamu belum minta jemput kan? Lagi pula hari sedang tidak mendukung." Ia menawarkan untuk mengantarku pulang. Aku menyetujui ajakannya dan ia pun mengajakku pulang secepatnya.

Setelah berterima kasih atas tumpangan mobilnya, aku segera masuk ke rumah dan membersihkan diriku. Rumah benar-benar sepi, yang terdengar hanya suara tv dan rintikan hujan di luar. Karena merasa cacing-cacing di perut meminta asupan makanan, aku berniat membuat mie goreng saja. Setelah memasukkan bongkahan mie ke dalam air yang sudah cukup panas dan membuka bumbu pelengkapnya di atas piring, aku mengambil sebotol sambal manis pedas kesukaanku untuk tambahan bumbu pelengkap. Namun entah mengapa, aku tidak bisa merasakan tanganku sendiri dan aku merasa ada yang mengalir dari hidungku. Botol sambal yang ku pegang pun langsung jatuh dan membuat keributan di dapur. Pembantu rumah tangga yang akrab di panggil mba Rina itu langsung menuju dapur dan mendapati aku tergeletak masih sadarkan diri di lantai dapur. Ia segera mematikan kompor gas dan mengecheck tubuhku yang tergeletak di lantai.
"Astagfirullhaladzhim! Mba Ara kenapa? Mba, bisa dengar saya kan?" Seru mba Rina padaku. Tubuhku terasa sangat lemas dan aku terus merasa ada yang mengalir dari kepalaku menuju hidungku. Entah sejak kapan aku merasa sangat kedinginan. Mba Rina yang sangat khawatir segera menghubungi Ayah dan Ibu. Sepertinya terdengar Ibu meminta mba Rina menghubungi 119 dan membawaku ke rumah sakit segera. Kemudian semua menjadi gelap dan aku tidak tau apa yang terjadi.

Leukimia dan Kanker otak stadium 3 adalah hal yang tidak pernah terbayang akan hinggap di tubuhku. Aku terbaring lemas di tempat tidur dan terus menangis mencengkram selimut menghadap jendela menatap kosong ke luar sana. Ku lihat langit masih menangis mewakili betapa pedihnya aku mengetahui kenyataan ini.  Aku meminta Ayah dan Ibu untuk merahasiakan ini dari pihak sekolah termasuk sahabat-sahabatku dan Kyle. Setelah di rawat 1 minggu dan melakukan berbagai chemotherapy, aku di perbolehkan keluar dari rumah sakit dan kembali bersekolah.

Aku tidak tau bahwa perasaan akan kehilangan orang-orang yang aku sayang akan menyiksa seperti ini. Aku meyakini bahwa dengan menjauhkan diriku dari mereka, akan jauh lebih mudah dari pada harus di kelilingi oleh mereka. Sahabat-sahabatku mencurigaiku menyembunyikan sesuatu, aku pun sebisa mungkin membuatnya percaya bahwa tidak ada yang aku sembunyikan. Tanpa sadar hal kasar telah terucap dan telah ku lakukan. Mereka memutuskan untuk berhenti memperdulikanku. Dan mereka akan sampaikan pada Kyle bahwa aku tidak suka ia berada dalam hidupku. 
'Aku berbohong. Tidakkah kalian mendengar jeritanku di dalam, harus mengatakan semua hal itu kepada kalian? Aku ingin sekali memeluk dan di peluk oleh kalian. Aku sangat membutuhkan kalian. Aku sayang kalian.' Hatiku menjerit.


Ujian Nasional pun berlangsung. Setelah melewati UAS, kini hari ini adalah hari terakhir aku menghadapi Ujian Nasional. Tinggal seminggu lagi aku harus tersiksa jiwa dan raga di tengah gemelut orang-orang yang mengenalku dan aku kenal. Sehari sebelum Ujian Nasional berlangsung, Dokter Roy memberitahuku dan keluargaku bahwa penyakitku sudah menginjak stadium 4, dan hidupku tidak lama lagi. Aku sangat terpukul mendengarnya. Semakin terpukul karena merasakan batinku tersiksa. Rasanya aku ingin bunuh diri saja agar proses kematianku lebih cepat. Namun Allah menyadarkanku untuk berbuat baik di sisa hidupku yang singkat itu.


Setelah melalui Ujian Praktek di sekolah, aku tidak pernah hadir lagi di sekolah. Ayah dan Ibuku sudah memberi tahu pihak sekolah tentang penyakitku, namun tetap merahasiakannya dari murid-murid. Semenjak pertengahan April, aku masuk dan menghuni kamar VIP 341 sampai sekarang pertengahan Mei. Besok Semua siswa kelas 12 di wajibkan untuk hadir ke sekolah untuk pengumuman kelulusan.
Hari itu aku datang dengan memakai baju rumah sakit dan di balut sweater cokelat kesayanganku, agar tidak terlalu jelas bahwa aku memakai pakaian rumah sakit. Muka ku pucat dan berat badanku turun 8kg yang membuat mukaku terlihat tirus. Kulitku pun putih pucat tak berwarna. Rambutku tipis di balut topi merah membuatku sedikit mencolok. Aku berjalan di dampingi sepupuku dan kami mengambil daerah aman yang terdapat tempat duduknya agar tidak terlalu mencolok. Akupun tidak kuat berdiri terlalu lama, maka dari itu kak Mia lah yang berdiri menggantikan aku. Aku hanya ingin hadir di sekolah untuk terakhir kalinya.


Tiba-tiba aku merasakan sesuatu melewati pinggangku dan kudapati kepala seseorang di taruhnya di bahuku. Dan seketika aku kaget dan akan menampar orang itu. Namun semuanya ku urungkan ketika aku sangat mengenal suara halus sedikit berbariton terdengar ramah di telingaku.
"Aku, kami, merindukan kamu. Kemana saja selama ini?" Sapanya ramah di telingaku.
Ia melepaskan pelukannya dan menatapku sayu seperti kehilangan kepercayaannya. Melihatnya begitu, aku mengalihkan pandanganku dan menjawab "Aku tidak pernah kemana-mana. Mungkin kamu dan kalian yang kurang berusaha mencari."
Ia terlihat mendengus dan mengacak rambutku pelan. "Kamu memang tidak pernah kemana-mana. Namun sosokmu hilang dari pandanganku."
Mnedengar satu kalimat yang ia ucapkan, rasanya aku ingin menangis di tempat. Seandainya aku bisa  menceritakan ceritaku seperti dulu kepadanya. Seandainya aku bisa mencurahkan perasaanku. Aku ingin melakukannya. Sangat ingin. Dan kemudian tangisku pecah bersamaan riuhnya anak-anak di lapangan. Terlihat kak Mia berlari ke arahku dan memberikan surat ke lulusan padaku. Ia memelukku penuh haru dan sebelum Kyle ijin pergi untuk mengambil surat kelulusaan, aku berpesan untuk menyampaikan salamku pada sahabat-sahabatku. Kemudian ia memelukku dan mengisyaratkan 'pasti'. Setelah melihatnya punggungnya hilang bergabung dengan anak-anak lain, aku dan kak Mia segera kembali ke rumah sakit.

Begitulah sampai aku berada di ruangan ini dengan berbagai alat medis dan obat-obatan yang merenggut masa mudaku. Ya Allah, aku percaya Engkau selalu bersamaku. Kuatkanlah aku ya Allah...




Erangan, teriakan, tangisanku semalaman karena kanker otak yang ku derita membuatku terlelap hingga sekarang. Tubuhku tak bergerak dan dinyatakan koma setelah mengalami gagal jantung pukul 1 dini hari tadi. Ibu dan Ayahku menangis sedih melihat keadaanku yang seperti sekarang. 'Maafkan aku, Bu, Yah. Aku tidak bermaksud membuat kalian sedih.' pintaku tentu tanpa terdengar siapapun.
Sepertinya Ayah atau ibu telah memberitahukan sahabat-sahabatku dan Kyle tentang penyakitku. Mereka baru saja datang dan tak satupun dari mereka luput dari tangisan ketika melihat keadaanku. Mereka memeluk ragaku dan di selangi permintaan maaf.


Aku dengar Shierly, Nadya dan Lindsy berkata bahwa mereka sangat merindukanku dan sangat menyesal telah meninggalkanku. Mereka minta maaf karena tidak ada di saat aku membutuhkannya. Aku sangat ingin memeluk mereka dan berkata 'Tidak apa, teman-teman. Aku juga merindukan kalian. Aku sayang kalian.' Namun aku masih dinyatakan koma dan belum tau kapan akan terbangun dan hal terburuk adalah aku tidak pernah bangun lagi.
Aku dengar Kyle juga mengatakan hal yang sama dan ia berkata bila aku tidak pernah bangun lagi, itu akan menjadi penyesalan terdalamnya seumur hidupnya. Aku ingin memeluknya dan mengatakan bahwa 'Tidak apa, ini sudah takdirnya. Kehadiranmu di sini sudah sangat membuatku bahagia.' Namun aku masih juga tak bersua.


Ragaku menitikkan air mata. Aku tetap masih tidak dapat menggerakkan anggota tubuhku. Sampai alat pengukur denyut jantungku berbunyi 'piiip...' dan terlihat tekananku menurun drastis. Semua orang panik dan suster meminta mereka keluar agar tidak mengganggu konsentrasi dokter. Dokter memberiku alat pemicu jantung. Satu kali, dua kali tidak berpengaruh apapun. Mencobanya untuk yang ke tiga kali, harapan dokter pupus saat alat pengukur denyut jantungku menunjukan tidak ada lagi denyut jantung. Ku lihat suster Belinda menangis dan Allahpun menunjukkan kebesaranNya. Tiba-tiba Denyut jantungku hadir kembali. Aku masih di beri kesempatan untuk hidup. Mungkin tidak lama, namun aku sangat mengahargainya. Dan begitu aku membuka mata, terlihat semua rang mengelilingiku, menatapku sayu dan gembira bercampur haru. Mereka tersenyum dan menyapaku dengan suara parau. Aku pun menitikkan air mata dan tersenyum. 'Terima kasih ya Allah, Engkau masih beri aku kesempatan. Aku percaya Allah SWT selalu bersamaku'


Semoga tidak ada orang yang menyia-nyiakan hidupnya. Sedangkan aku membutuhkan kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar