Pernah ada seseorang mengatakan kepadanya untuk mengadahkan kepala dan menatap langit, kemudian berlari kencang tanpa menengok ke belakang. Dan segala semangat yang pernah orang itu bangun, luluh lantah oleh dia pula yang membangunnya. Itukah hukum alam? Siapa yang memulai, ia juga yang harus mengakhiri?
Pernah ada seseorang yang mengatakan bahwa bermimpilah setinggi-tingginya dan seluas-luasnya dengan kata-kata dan matanya. Hingga membuat siapa yang melihatnya percaya akan keindahan sebuah mimpi dan cita-cita itu. Hingga terbang menjadi sebuah hal mudah, bukan lagi sebuah angan.
Orang yang sama juga pernah mengatakan dengan tegas bahwa tidak ada kebahagiaan yang abadi. Tapi ia tidak menyangka bahwa yang menghentikan relung waktu bahagianya adalah satu orang yang sama dengan orang yang mengajarkannya terbang tinggi.
Pernah ada seseorang untuk menaruh segala bebannya pada sebuah wadah dan memampatkannya agar tak terlihat, terdengar, terbaca lagi olehnya. Namun ternyata ia adalah orang yang sama yang telah membuat goresan tepat di tempat yang sama. Luka lama dan luka baru, bukan masalah itu. Masalahnya adalah luka akan sembuh, tapi akan berbekas. Itukah hukum alam? Siapa yang melukai, justru ia orang yang pernah menyembuhkan luka. Dan yang paling mengerikan adalah saat ia tak sadar kalau goresan itu siapa yang membuatnya.
Menangis itu hukum alam. Semua orang pernah menangis. Perempuan, laki-laki, anak-anak, manula, semua pernah menangis disaat sedih, tersakiti, keharuan, dan kerinduan. Bahkan ketika dilahirkan kita tahu bahwa hidup bukanlah hal mudah. Ya, mungkin itu alasan mengapa kita menangis saat dilahirkan. Tapi bagaimana dengan yang tidak menangis saat dilahirkan?
Dan bagaimana dengan ia yang ingin menangis tapi air mata tak jua berada di pelupuk mata?
Ia tersenyum menatap lagit malam. Menghitung jumlah bintang yang nampak di matanya saat itu. Tak terhingga adalah satu kata yang ia ucapkan. Ia tak bisa menghitungnya. Begitu pula perasaannya. Kemudian ia menyadari 2 hal yang menyatakan persamaan. Yang pertama adalah ia tidak bisa menemukan alasan mengapa ia menghitung bintang itu sama seperti alasan mengapa ia harus memiliki perasaan yang tak terdefinisikan. Yang kedua adalah menghitung bintang itu sama-sama tidak berguna seperti perasaannya yang terpendam.
Dan kemudian ia menatap langit malam, ia tersenyum lagi kepada sang bulan. Kemudian ia melempar sebuah pertanyaan kepada bulan purnama, mengapa sang pelipur lara dan ia yang menggoreskan luka adalah satu orang yang sama? Apakah itu sebuah hukum alam yang tidak bisa di ganggu gugat?
![]() |
| Counting Stars |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar