Sabtu, 14 Juli 2012

Burung di Sangkar Emas

Ketika pagi itu aku habiskan untuk menjelajahi bukit-bukit, dengan sinar matahari masih mengintip di ufuk timur. Walau sudah menghabiskan dua jam lamanya, kaki-ku tetap terus melangkah. Membawaku ke sebuah rumah besar nan asri. Disana aku di suguhkan sebuah pemandangan yang jarang dilihat di kota-kota besar. Sebuah danau dengan latar hutan yang terlihat alami sekali. Banyak kupu-kupu dan burung-burung kecil bermain di tanah berumput di sekitar danau itu. Ku ambil kamera yang aku bawa dan aku coba mengambil gambar sebagus mungkin untuk oleh-oleh dari liburanku.

Mulai dari kupu-kupu yang menari-nari di atas bunga berwarna kuning dan merah muda itu. Pemandangan danau, gemercik airnya, pantulan dari air, pemandangan hutannya juga aku foto dengan kamera kesayanganku. Sampai aku berbalik dan kameraku menunjukkan objek yang menarik. Di dalam rumah itu terdapat sangkar emas tergantung di sebuah pohon Oak dengan lampu-lampu kecil di atasnya. Rimbun dan terdapat gazebo sederhana disana. Pasti cocok untuk bersantai menghabiskan waktu luang.
Kedua iris mata coklatku menangkap sesuatu di dalam sangkar itu. Seekor burung berbulu putih bercorak kuning dan hitam berada di dalamnya. Semangkuk ukuran kecil makanan dan minuman juga tersedia disana. Bahkan terdapat hiasan tumbuhan di bawahnya. 'Mewah', itulah kesan pertamaku melihatnya. Ku ambil foto sangkar burung itu dengan men-zoomnya. Setelah melihat hasilnya, aku sedikit puas karena 'lumayan juga' pikirku. Setelah itu aku duduk di pinggir danau, melepas sedikit kelelahanku dengan menghirup udara segar pagi itu. Kemudian aku lihat kamerku dan berniat untuk men-cek ulang foto-foto yang telah aku ambil.

Pada foto ke 36, aku terdiam tidak menggeser foto itu ke foto yang berikutnya. Aku menatap foto terakhir yang aku dapat. Sebuah foto burung dalam sangkar emas.
Burung itu pasti tercukupi dan cukup senang hidup di sana. Dengan makanan dan minuman sudah tersedia, di manja dan di rawat——pastinya. Apalagi sangkarnya terbuat dari emas——aku menyimpulkan begitu karena warna pada sangkarnya yang mengkilap. Juga hiasan-hiasan di dalam sangkar yang membuatnya terlihat mewah. Ditambah bulu yang dimiliki burung itu terlihat rapih, cantik dan sangat menarik.

Tapi, foto adalah sebuah siluet gambar yang telihat hanya pada saat itu. Bisa juga disebut sebagai kenangan. Tapi, aku tau bahwa burung itu tidak ingin berada di sana. Ia juga ingin terbang bebas bersama teman-temannya mengarungi langit biru. Melakukan perjalanan jauh dengan berbagai petualangan yang menambah pengalamannya. Dengan ia terus berada di sangkar emas tersebut, ia tidak pernah tau seperti apa dunia di luar sana. Seperti apa terbang diatas danau, seperti apa mencari makanan, seperti apa kehujanan. Ia tidak tahu apapun.
Selalu ada rasa ingin pulang ke alamnya. Selalu ada hasrat untuk terbang bebas bersama kawan-kawannya. Sebuah sangkar mewah tidak menggantikan rasa yang terpendam tersebut. Namun, apa daya? Aku dan burung itu sama-sama tidak mengetahui bagaimana cara mengeluarkannya. Ia bukan milikku, akupun tidak tahu bagaimana membebaskannya.

Namun, akan ada hari dimana lebih menyenangkan di dalam sangkar itu, tentunya. Di saat badai menghantam langit dan mengubah birunya menjadi kelabu. Pada waktu pemburu memburu burung-burung untuk di jual. Ia pasti merasa terlindungi di sana.

Suatu hari, akan ada dimana burung itu dapat terbang bebas di langit biru itu. Mengitari danau ini dan ikut menari dengan kupu-kupu itu. Akan ada hari dimana ia belajar dan mendapatkan apa yang ia butuhkan.

Berbahagialah karena kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Namun jangan pernah lupa menjaga apa yang kamu butuhkan, sebagai rasa bersyukur. Sesungguhnya keinginan hanyalah hasrat semata. Namun kebutuhan tidak pernah lepas sekalipun terpaksa.


Sangkar Emas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar