Jumat, 13 Juli 2012

Senyum Terakhir


  
    Ada yang mengejar kebahagiaan
Ada pula yang menciptakannya



Pagi itu kami duduk di meja makan kayu panjang di sebuah panti asuhan, untuk sarapan pagi bersama. Aku adalah salah seorang anak dari Bunda Moses——Ibu anak-anak panti ini. Pagi itu corn flakes lezat buatan Bibi Joan telah terhidang, aroma manisnya mengganggu pencernaan kami untuk segera menyantapnya. Tapi Bunda belum memulai doa untuk makan pagi ini, yang berarti sarapan belum siap untuk meredam kelaparan kami. 
"Anak-anak, kita punya saudara baru, namanya Joe Beecher. Ia datang tadi malam di saat kalian sudah terlelap. Umurnya 7 tahun dan berasal dari Chicago. Mohon bantuannya ya semua." Ucap Bunda sambil menepuk kedua pundak Joe. Joe yang terus menundukkan kepalanya, mengangkatnya sebentar. Memberikan pandangan lurus kepada kami tanpa ekspresi yang sulit di baca, kemudian menundukkan kepalanya lagi.
"Baik, sarapan sudah siap untuk masuk ke dalam lambung-lambung kalian dan meredam keroncongan itu." Setelah bunyi perut Sally terdengar di indera pendengar Bunda, bunda tersenyum simpul dan membuka acara sarapan pagi itu di mulai dengan doa. Kami menghabiskan corn flakes, roti dan segelas susu dalam waktu 30 menit. Setelah cacing di perut kami tidak berdemo lagi, kami harus bersiap-siap berangkat sekolah pada pukul 9 pagi.

Aku adalah anak tertua Bunda Moses. Aku sudah tinggal di sini sejak umurku menginjak 3 tahun. Bunda tidak pernah mengijinkan siapapun membawaku. Karena aku juga anak pertama yang Allah titipkan pada Bunda di saat-saat beratnya——Bunda telah kehilangan Suaminya pada saat perang di Boston pada tahun 1993 dan kemudian pindah ke Lombard Street.
Joe terlihat kebingungan dan hanya bersandar di dinding kamar kami melihat kami sibuk membenahi barang-barang yang akan kami bawa. Aku rasa ia belum mendapat perlengkapannya. Aku yang kebetulan sudah masuk universitas dan baru memiliki jadwal kelas pukul 12 siang, memiliki waktu lebih banyak dari anak-anak lainnya. Ia tau aku berjalan mendekat ke arahnya. Ia lagi-lagi menundukkan kepalanya. Ku raih tangannya dan ku ajak bicara, namun ia tetap tidak merespon kalimatku. Akhirnya ku gandeng tangan mungilnya ke ruang Bunda Moses.
Bunda memberi tahu bahwa perlengkapannya baru akan sampai nanti malam, yang berarti hari ini ia belum siap untuk bersekolah. Bunda Moses memberinya mainan, sebuah kapal kecil bercatkan biru dan merah dengan bendera kecil Amerika terdapat di tiangnya. Bunda Mengecup pipi kanannya kemudian membisikkannya sesuatu. Aku rasa Bunda memintanya bermain di luar, karena tak butuh waktu lama, ia sudah berlari meninggalkan kami berdua.

Aku dan Steven berkawan sejak kami masih di bangku Senior High School, dan sekarang kami satu Universitas di USF, California. Kami telah menjalin hubungan sekitar satu tahun lalu saat kami masih di semester satu. Kami melalui waktu dengan hubungan yang nyaris terlalu indah. Kami tidak pernah bertengkar. Ia sahabat terbaikku, tempatku bersandar dan sumber dari banyak tawa dan kebahagiaan. Ia memiliki kehidupan yang menyenangkan. Keluarganya lengkap, bahagia. Ia juga anak yang cerdas dan berkecukupan. Ia juga mendapat gelar pemain terbaik di team Baseball USF(University of San Francisco). Namun ia tidak pernah sombong dan selalu bersikap baik juga ramah kepada semua orang. Ia sering mampir ke panti seperti sore ini. Kami sudah tidak memiliki jadwal kelas hari Rabu itu. Jadi aku bertanya apa yang ingin ia lakukan, kemudian ia menjawab 'bagaimana kalau kita bermain bersama anak-anak panti?' dengan wajah sumringah. Tentu saja aku menyetujuinya. Biasanya Steven selalu membawa oleh-oleh kecil setiap ia mampir. Seperti cokelat, cemilan, atau buku bacaan.

Duka yang terlampau di pendam bisa menjadi berlipat ganda. Kematian menimbulkan luka yang tidak dapat di sembuhkan. Cinta meninggalkan kenangan yang tidak dapat di renggut.

Aku dan Steven duduk di gazebo yang terdapat di halaman panti. Dan indera pengheliatannya menangkap sosok anak laki-laki bertubuh kecil berambut gelap sedang memainkan sebuah kapal kecil di kolam air mancur sendirian. Ia juga tidak tertarik dengan oleh-oleh yang Steve bawa.
"Kata Bunda, ia telah mengalami masa berat. Di tinggal di depan pintu saat malam hari dan tumbuh tanpa sosok Ayah dan Ibu kandung itu cukup berat. Tapi ia mengalami yang lebih berat." Ucapku kepada Steve yang tetap mendengarkan. Ia bukan tipe orang yang suka mencela omongan seseorang.
"Ia baru saja kehilangan Ibunya. Ibunya meninggal karena mengidap kanker ganas. Ayahnya menjadi pemabuk dan tidak mengurusnya. Sang Bibi yang kasian kepadanya, mengirimkannya kepada kami di sini. Berharap ia mendapat kehidupan yang lebih baik." Ucapku lagi.
"Tapi sepertinya kehilangan itu membawa dampak pada psikologisnya. Kamu pasti tahu apa yang aku maksud. Aku bahkan belum mendengar suaranya, walau berkata 'Hai' atau 'ya'."
"Hidup berlaku bagi mereka yang masih bernapas. Tetapi sebagian dari diri Joe sebenarnya ikut pergi juga." Steve membuka suaranya. Pandangannya tetap lurus dan tajam. terkesan mengintimidasi Joe yang sedang sendirian di dalam dunianya. "Mari kita bantu ia menyembuhkan luka yang ada di dalam sana." Steven tersenyum hangat kepadaku sambil menunjuk Joe di sana. Aku menganggukkan kepalaku dan membawa sebatang cokelat untuk Joe. Sedikit banyak kami mencoba mengajaknya bermain dan berbicara. Namun ia menolaknya dengan lari dan menjauh dari kami.

Tidak terasa telah 5 bulan Joe berada di panti dan dengan keadaan yang sama, ia belum terlihat cukup baik berinteraksi. Ia selalu sendirian dan tidak mau membuka dunianya. Steven juga ikut berusaha merubah keadaan Joe. Namun setidaknya kami tau Joe tertarik dengan Baseball setelah Steven membawa alat perlengkapan Baseballnya sepulang latihan. Walau Joe belum mau bercerita dan tetap menutup diri, ia mencoba mempelajari Baseball. Hari itu Bunda mendapat telfon dari sekolah tentang perkembangan anak-anak. Dan pihak sekolah memberi tahukan bahwa Joe kurang baik dalam belajar. Nilainya tidak baik, karena ia tidak mau memperhatikan saat guru menerangkan. Ia asik dengan dunia miliknya sendiri. Setiap ada yang menegurnya atas kesalahannya, matanya mulai berlinang dan bibir mungilnya bergetar. Siapa yang tega melihat anak umur tujuh tahun menangis di depan kita? Ia juga menjadi kasar terhadap teman-temannya yang mencoba berinteraksi dengannya. Ia seperti menganggap bahwa mereka mengganggu pekerjaannya. Tak jarang Joe memukul atau mendorong temannya hingga jatuh dan menangis. Kami semua tetap berusaha dan tidak menyerah untuk Joe.

Pertama kali kita memahami kematian adalah saat kematian tersebut meletakkan tangannya pada orang yang kita cintai.

Hari itu hari Minggu sore saat Steven pulang dari latihan Baseballnya. Ia menyempatkan diri mampir ke panti menemuiku dan yang lainnya. Ia juga mengajarkan Baseball kepada Joe untuk mencari perhatiannya untuk berbicara. Tapi sudah 3 bulan Steven melakukan itu, Joe tetap tidak mengeluarkan suara. Ia hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya. Saat sedang menunjukkan cara memukul bola, Steven tiba-tiba terjatuh. Joe berlari kecil mendekatinya. Kami semua berlari ke arah Steven untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi Steve tidak sadarkan diri. Kami memapah tubuhnya ke kamar dan merebahkannya di salah satu kasur. Aku segara mengambil semangkuk air hangat dan mengompresnya. Bunda datang membawa segelas air putih dan menaruhnya di meja kecil di samping tempat tidur. Kemudian Bunda mengajak anak-anak untuk turun dan meninggalkanku berdua di sana.
Steven pulih kembali 15 menit setelah ia tak sadarkan diri. Ia mengeluh kalau kepalanya tiba tiba sakit dan pusing. Ia juga merasa degupan jantungnya lebih kencang dan cepat hingga sekarang. Ia memintaku mengukur apa benar degupan jantungnya lebih kencang, kemudian aku mengeceknya dengan menaruh tanganku di dadanya. Aku memintanya ke rumah sakit untuk di periksa. Ia menyanggupinya. Ia bilang malam ini juga akan ke rumah sakit, karena ia tak mau membuatku khawatir.

Selasa 3 September adalah hari terakhir kami mengikuti ujian. Dan Steven harus latihan untuk mengikuti perlombaan antar university hari Senin depan. Aku duduk di bangku penonton bersama Naomi, si perempuan cantik bermata sipit. Ia sahabatku sejak masuk USF ini. Kami memberi semangat kepada pemain Baseball USF seperti yang menonton latihan ini seperti kami. Saat itu Steven sudah mulai berlari dan kemudian terjatuh tak sadarkan diri. Regu langsung menghampirinya dan membawanya ke ruang kesehatan. Tapi pihak yang bekerja di ruang kesehatan menyarankan untuk di bawa ke rumah sakit karena senyut nadinya yang terus tidak stabil dan detakan jantungnya yang kian kencang.
Steven di bawa ke rumah sakit sore itu. Keluarganya datang dan mengkhawatirkannya, begitu juga aku. Dokter mengatakan bahwa Steve mengidap bronkhitis dalam vonis dokter sementara. Karena matahari kian menghilang, aku harus pulang dan menitipkan salamku pada keluarga steven.
Keesokkan harinya, steve tidak masuk dan tidak pula latihan. Ia tidak menghubungiku sama sekali. Aku berpikir bahwa ia berada di rumah sakit dan butuh istirahat yang serius. Aku menceritakannya pada Joe dan menwarkannya ikut menjenguk Steven. Dan ia menganggukkan kepalanya. Namun saat kami sampai di rumah sakit, pihak rumah sakit mengatakan Steve di pindahkan ke rumah sakit lain tadi pagi. Akhirnya kami pulang dalam keheningan kami.

Saat kau dikuasai kesedihan, lihat lagi hatimu. Kau akan menyadari bahwa sesungguhnya kau menangisi hal yang sebelumnya menjadi sumber kebahagiaanmu.

Sudah tiga hari Steve tidak ada kabar dan Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku sudah mencoba menghubunginya, rumahnya juga teman dekatnya, namun hasilnya nihil. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Steven.
Malam itu aku loncat dari tempat tidurku begitu melihat nama Steven tertera di layar handphoneku. Aku langsung menjawap panggilannya. Ia menanyakan keadaanku dan begitu pula aku tentang keadaannya. "Maaf, aku mengidap leukemia..."Menjadi empat kata yang membuatku terdiam. Aku sangat mencemaskannya. Seketika rasa takut dan sedih menggerogoti tubuhku. Aku sangat takut kehilangannya. Aku takut ia di renggut dariku. Tetes demi tetes air mata jatuh dari pelupuk mataku. Ia tau aku menangis. Kemudian ia tertawa. Ia bilang untuk jangan menangis karena semua akan baik-baik saja.

Steve menjalani delapan seri kemoterapi dan transplantasi steem cell. Kami menghabiskan semester terakhir kuliah di rumah sakit, menonton film dan bercanda di ruangan beraroma khas antiseptic itu. Para perawat kerap kali harus mengingatkan kami untuk tidak tertawa terlalu keras agar tidak mengganggu pasien lain. Hidup kami tidak sepenuhnya indah, tetapi cinta diantara kami terasa begitu sempurna. Setelah transplantasi, Steve pulang dan mulai masuk tahap pemuliha. Kami begitu bahagia. kami mulai membahas tentang rencana pertunangan setelah menyelesaikan sarjana kami. Rasanya bagi dua orang berusia awal 20-an, yang baru saja berada begitu dekat dengan kematian, hidup mulai normal kembali. Setelah lima bulan hasil pemindaian dan tes darah, Steve menunjukkan semua baik-baik saja. Ia mulai bermain dengan anak-anak di panti sesekali. Dan malam ini banyak sekali bintang di langit. Aku, Steve dan Joe telah menyelesaikan semua tugas kami. Steven yang memutuskan untuk menginap, mengajak kami keluar dan memandang lagit malam itu. Kami merebahkan tubuh kami di tanah berumput itu dan mulai membicarakan tentang bintang.
Aku menatap Joe dan ia membalas tatapanku. Ia telah menjadi anak yang lebih baik sekarang. Ia mulai memperhatikan pelajaran, nilainya meningkat, sifat juga sikapnya menjadi lebih baik. Ia juga menggambar tentang keinginannya menjadi pemain Baseball yang hebat kelak. Aku rasa perubahan ini karena ia juga sama takutnya denganku, untuk kehilangan Steven.
"Joe, apa kamu merindukan Ibumu?" Tanyaku pada bocah yang sudah berumur 8 tahun itu sekarang.
Tatapan matanya terlihat getir. Ia kemudian memandang bintang. Steven dan aku memandanginya seperti menunggu sesuatu. Aku tidak menyangka ia akan menjawab pertanyaanku dengan suaranya. Suara pertamanya di panti ini.
"Aku rindu sekali dengan Ibuku. Sangat merindukannya." Jawabnya pelan.
"Apa yang kamu rindukan darinya?" Tanya Steven.
"Macaroni schootel buatannya lezat sekali! Dan aku rindu dengan pelukan juga senyum hangatnya." Jawabnya lagi. Kini kami dalam posisi duduk saling menatap. Kemudian aku memeluk Joe dan mengecup pucuk kepalanya. "Aku tau kami tidak akan bisa menggantikan hal-hal itu. Tapi kami keluargamu Joe. Dan akan selalu menjadi keluargamu." Kemudian Joe membalas pelukanku erat.

Orang yang lemah tidak bisa memaafkan. Memaafkan adalah milik mereka yang kuat.

Sejak malam dimana Joe mulai membuka dunianya kepada orang lain, Steve jarang memberiku kabar. Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi disini. Tapi aku tau ada yang di sembunyikan dariku. Pertama-tama hanya satu satau dua hari. Lama kelamaan menjadi tiga sampai lima hari. Sesibuk itukah ia? Atau ada orang lain selain aku?

Hari itu aku dia ajak kerumahnya. Ia terlihat lebih kurus dan pucat. Ia tidak mengatakan apa-apa selain 'tunggu aku di sini'. Aku seperti kucing peliharaan, duduk manis di sofa rumah itu. Aku melihat tas Steven tergeletak di sana dan tergeser oleh ku hingga terjatuh. Beberapa buku dan alat tulis Steven terjatuh dan aku menemukan sebuah surat putih yang aku tahu berasal dari rumah sakit. Ku buka surat itu dan kudapati Steven di vonis bahwa kandung kemihnya terkena virus yang melemahkan daya tahan tubuhnya. Steven datang dan langsung merebut surat itu dariku. Aku mengatakan padanya bahwa ia telah membohongiku. Terakhir dia bilang ia sehat-sehat saja. Padahal surat itu sudah cukup lama. Ia mengakui bahwa telah mengikuti operasi pengangkatan kelenjar di dadanya akibat kemoterapi dan sudah melakukan transplantasi tulang sumsum. Kami bertengkar dan di akhiri dengan aku menangis dan dia minta maaf padaku. Ia menyesal sudah membohongiku.

Pada malam Halloween, Steve harus masuk rumah sakit karena ia tiba-tiba tidak sadarkan diri saat ikut meramaikan malah Halloween bersama anak-anak panti. Daya tahan tubuhnya menurun drastis. Wajahnya tampak pucat tak bertenaga. Dokter mengatakan bahwa Steven sudah berjuang keras hingga bertahan satu bulan lamanya di rumah sakit. Tapi dokter mengatakan bahwa umurnya tidak lagi panjang. Malam itu akan menjadi malam ulang tahunku yang ke-24. Dan malam itu salju halus bersama rintik hujan turun membasahi bumi. Tidak seperti biasanya yang selalu menyuruhku pulang, ia memintaku untuk tetap berada di sana malam itu. Ia terbangun saat tengah malam, aku meraih tangannya. Ia bilang bahwa ia sangat mencintaiku, dan betapa aku adalah perempuan yang kuat serta mampu melakukan apapun. Malam itu, ia mengecup keningku dan mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Pada pagi buta itu, tanggal 13 Desember, Steven menghembuskan nafas terakhirnya, dengan senyum menghiasi wajah tampannya dan tangannya di dalam genggaman tanganku.

Di pemakamannya, hadir sekitar 500 orang——Membuat hari itu terasa lebih seperti perayaanatas hidup. Aku sangat terkesima betapa banyak orang yang pernah tersentuh oleh Steven.
Aku tidak tahu sudah berapa banyak bulan, minggu atau hari yang aku lalui setelah kepergian Steven. Aku dan semua orang di panti sangat kehilangannya. Aku bertanya-tanya 'apakah mungkin seseorang meninggal akibat duka'. Saat itu aku tidak peduli apabila hal tersebut benar-benar terjadi. Terbayang hari-hari yang seharusnya aku rajut bersama Steven membuat masa dukaku begitu kian lamanya.
Namun aku sadar, aku tahu Steven menginginkan kehidupan lebih indah dan bahagia untukku. Jadi aku berusaha sebaik mungkin menjalani hidup dengan cara yang sekaligus merupakan penghormatan atas Steven.  Aku sempat berharap cintaku untuknya cukup kuat untuk menyelamatkannya. Namun, sesungguhnya cintanyalah yang menyelamatkanku setiap hari.

Saat orang yang kau cintai menjadi kenangan, kenangan iu menjadi harta. Dan kesedihan hanya akan melayang pergi menggunakan sayap waktu.

Allah menganugerahi kita kenangan, memberitahu bahkan mawar pun bisa mekar di bulan Desember

Tidak ada komentar:

Posting Komentar