Jumat, 06 Januari 2012

Seterusnya

Kali ini aku akan membagi ceritaku hari Kamis kemarin di temani lagu Never Knew I Needednya NeYo. Aku tidak akan menceritakan semua apalagi mendetail yang pastinya ya :p
Tetapi bagaimanapun, cerita ini tidak akan lengkap tanpa mereka >> Rizto Wisuda, Sarah Shafira, dan Nurfitriyani A.K.A Acil. :D

Pagi ini aku bangun pukul 6 pagi. Padahal hari ini masih hari libur sekolah. Tapi kebangunanku bukan dikarenakan jam alarm yang tiap pagi membangunkanku untuk sekolah, melainkan sebuah alasan yang membawaku bangun dari mimpiku. Alasannya ialah hari ini aku mempunyai acara dengan beberapa temanku pukul 8 pagi. Seperti biasanya, yang aku lakukan adalah mencari keberadaan handphone ku yang ternyata berada di bawah bantalku. Walau jam dinding terpasang jelas di atas pintu kamarku, aku lebih memilih melihat jam di handphoneku. Ternyata baru jam 6:02, dan tidak ada sms yang masuk pagi itu. Karena mengingat sebuah tugas untuk mengajak temanku yang sangat sibuk bernama Alif, aku segera membuat teks pesan baru untuk menanyakan keputusannya untuk ikut.

Aku bergegas membereskan keperluanku dan merapikan tempat tidurku kemudian menuju kamar mandi. Setelah aku beres, aku melihat handphoneku yang ternyata tidak ada sms satupun yang masuk dan jam sudah menunjukkan pukul 7. 'Sebenarnya, mereka ini jadi pergi tidak, sih?' ucapku dalam hati. Kemudian aku mencoba mengirimkan sms ke masing-masing temanku. dan ternyata mereka membalasnya. Ada yang baru bangun, ada yang mau menjemputku dan ada yang menyiapkan keperluannya. Namun tak ada satupun balasan dari manusia yang super sibuk itu. 'aku rasa anak ini tidak akan ikut' pikirku. Jam sudah menunjukkan pukul 7:45. Aku dan temanku Acil(yang menjemputku) segera berangkat menuju rumah Sarah untuk menjemputnya.

Setelah sampai di rumah Sarah, ternyata Alif memang tidak bisa ikut dikarenakan ia tidak memberi kabar sedikitpun. Akhirnya kami bertiga berinisiatif menghubungi Risto untuk mengabarinya bahwa Alif tidak bisa ikut dalam acara kita kali ini. Namun ternyata Risto yang sudah dalam perjalanan menuju tempat janjian kami, di depan J.co, memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana kami. Kami sekedar merapikan barang bawaan kami dan tanpa kami sadari jam sudah menunjukkan pukul 09:30 dan parahnya Risto sudah sampai di tempat kami janjian. Dengan tergesa-gesa, kami segera berangkat menuju tempat janjian. Sekitar pukul 09:45 kami sampai dan terlihat dari kejauhan Risto yang sedang menunggu kami dengan aura yang dapat kami baca bahwa ia jengkel menunggu kami yang terlalu lama. Setelah acara minta maaf yang kami lakukan dan di beri tanggapan sekenanya dari dia, kami bergegas berangkat ke terminal menunggu bis 09B yang kata Risto sih, ada tulisan tol cikunirnya. Setelah menaiki bis dan duduk, inilah perjalanan 4 anak manusia tanggal 5 Januari 2012. Ditemani lagu Indonesia khas galau yang dinyanyikan oleh pemusik jalanan bersama gitarnya, sambil memandangi jalanan tol yang di rayapi berbagai macam mobil, tidak terasa kami harus turun di Pasar Rabo. Setelah turun dari bis, kami harus berjalan beberapa ratus meter untuk mencapai angkot 01 dan alhamdulillah, begitu kami sampai dimana kenek bis tadi memberi tahu kami harus menunggu angkot, kami langsung dengan bertemu dengan angkot tersebut.

Dan sampailah kami berempat di pintu gerbang TMII. Rasanya naik angkot menuju tempat ini hanya membutuhkan waktu 2-3 menit. Dan betul saja, jam menunjukkan pukul 10:15. Kami hanya butuh 45 menit menuju TMII. Setelah membayar tiket masuk, ternyata aku merasa ada sesuatu yang aneh di kakiku. Tentu saja sepatu sandalku masih ada dua dan terpasang tepat di kakiku. Namun ternyata, lecet sudah muncul di kaki bagian belakangku. Beruntungnya aku, acil a.k.a Nurfitriyani membawa segala keperluan, benar-benar menjiwai kegiatan ekstrakulikuler yang ia pilih di sekolah, PMR. Ia memberikan plester atau kita sebut handsaplast kepadaku dan segera aku pakai untuk menutupi lukaku. Sungguh konyol, baru berjalan sebentar saja sudah seperti itu. Tujuan pertama kami adalah ke Keong Mas. Percaya tidak percaya, aku dan Risto baru pertama kali memasuki Keong Mas kemarin. Bahkan parahnya lagi, kakiku ini baru pertama kali menjelajahi TMII. Setelah kami mengunjungi Keong Mas, Sarah mengecheck berapa persenkah yang harus kami keluarkan untuk memasuki Keong Mas. Ini kebiasaan yang sudah kami hapal dari Sarah, jika bajet yang harus kami keluarkan tidak sesuai hatinya, ia pasti keluar dan meninggalkan kami, benar-benar sesuatu. Akhirnya Sarah menuju ke tempat dimana pengunjung harus membayar 25 ribu untuk menaiki Sky Lift. Kami diam sejenak memutuskan apa yang akan kita pilih, menonton T-rex di Keong Mas atau menaiki Sky Lift. Setelah di pikir-pikir, akhirnya kami memutuskan untuk menonton T-rex di Keong Mas pada pukul 11:00.


Setelah pukul 12:00, kami keluar dari bangunan yang di sebut Keong Mas itu dan berhenti di sebuah tempat sekedar melindungi diri dari sengatan matahari. Namanya cewek, Sarah dan Acil mengajakku untuk berfoto, tapi aku memang tidak mau berfoto di depan umum. Entahlah kenapa, jadilah aku menolak dan Risto mengambil foto mereka. Di tengah acara meneduh kami, kami melihat anak-anak SD yang bermain menggunakan becak-becakan. Jadilah anak-anak SD yang malang itu sebagai guyonan kami. Setelah puas menjadikan anak-anak SD tadi sebagai bahan guyonan kami, aku yang merasa bosan mengajak mereka berjalan, sebenarnya sih aku tidak tahu aku harus berjalan ke arah mana, namun mengingat Sarah tadi ingin menaiki kendaraan yang bisa kami naiki untuk mengelilingi TMII, kami menuju pohon besar dimana tadi kami menemukan mobil itu terparkir. Namun setelah menunggu 15 menit, kami tidak melihat satupun mobil itu lewat tanpa penumpang. Sekalinya ada, pasti sisanya hanya 3, sedangkan kami kan berempat. Tadinya ada ide kami menyewa sepeda, tapi nanti repot kalau kami harus masuk ke museum dan meninggalkannya di luar. Akhirnya Allah mengirimkan kendaraan mobil hampir mirip bus berhenti beberapa meter di belakang kami. 'Akhirnya' aku yakin kami semua mengucapkan hal yang sama. Setelah mengelilingi berbagai rumah adat, tempat bermain, museum, kami berhenti  di Museum Reptil dan mengeluarkan 3ribu rupiah sebagai wajib bayar telah menaiki kendaraan tersebut.


Setelah berjalan dan berhenti di depan Museum Reptil, kami di wajibkan membayar tiket seharga Rp 10.000 untuk memasuki Museum tersebut. Didalamnya terdapat buaya, kura-kura, komodo, dan paling banyak adalah ular. Setelah Risto puas mengambil banyak foto ular, kami memasuki gedung yang isinya binatang yang tadinya kami kira binatang yang di awetkan. Tapi ternyata setelah kami teliti hanya patung yang di buat sedemikian rupa. Gedung ini sepi sekali, bahkan kami satu satunya makhluk hidup di dalam sini dengan patung-patung yang cukup mengerikan. Ketika kami asik melihat-lihat, ternyata hujan besar mengguyur bumi dengan derasnya. Kini aku sama Acil hanya bisa unjuk gigi sama Risto dan Sarah yang tadi mempertanyakan apa gunanya payung padahal langit cerah sekali. Ternyata moto rexona mampu di keluarkan untuk saat ini, 'Sedia Setiap Saat'.
Manunggu hujan reda, aku dan Risto menghabiskannya dengan membaca keterangan tentang binatang-binatang itu, sedangkan Sarah dan Acil asik berfoto-foto ria di depan pendingin ruangan, yang menurutku malah terlihat seperti iklan shampoo. :p

Setelah kami mulai bosan dengan apa yang kami lakukan, aku mencoba membantu Acil mengambil beberapa foto, sedangkan Risto dan Sarah asik menjadikan anak-anak kecil yang baru memasuki gedung ini ketika hujan menghampiri bumi, sebagai guyonan. Aku sempat mengajak salah satu anak itu mengobrol. Namanya Zaki, ia bilang ia kelas 5 SD dan sedang mengerjakan tugas dari tempat lesnya. Setelah kami mulai merasa bosan(lagi), kami duduk di depan pendingin AC dan membicarakan hal-hal gak penting untuk aku deskripsikan di sini. :p
Akhirnya aku lebih memilih baca buku yang aku bawa dan duduk di depan patung macan yang tidak terlalu dingin. Tetapi mereka malah menjadikanku bahan guyonan.



Setelah Acil merasa hujan sudah cukup reda untuk di terjang (mengingat hujan ini pasti akan lama), kami keluar dari gedung itu dan membuka ketiga payung yang kami bawa. Akhirnya aku sepayung berdua dengan Acil, Risto dan Sarah menggunakan payung mereka masing-masing. Kami berjalan ingin menuju Museum Air Tawar dan Insecta, namun kami tidak tau kemana kami harus melangkahkan kaki kami di tengah hujan dan perut lapar. Akhirnya aku mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu sekalian menunggu hujan ini reda. Setelah berjalan beberapa ratus meter dengan berbagai cobaan pada payung kami, ternyata perjalanan kami membuahkan hasil. CFC yang kami cari terlihat di sebuah gedung Sky Lift. Tentu saja kami segera masuk dan memesan makanan. Setelah hujan reda dan kebetulan makanan kami sudah masuk kedalam perut kami tentunya, kami melanjutkan perjalanan di pimpin Risto, mencari dimana Museum Air Tawar dan Insecta berada.


Sudah beratus-ratus meter kami berjalan, sampai mengelilingi beberapa rumah adat, taman burung, Museum Listrik, dan kembali lagi ke Museum Reptil. Heihoo kami hanya berjalan memutar di tengah halusnya rintik hujan. Aku berjalan di depan mengikuti Risto yang masih mencari keberadaan Museum Air Tawar dan Insecta, sedangkan Sarah dan Acil asik menyanyi di belakang kami tanpa malu di dengar orang. Memang hari sudah sore dan waktu menunjukkan pukul 3:45. Aku yakin, banyak pengunjung yang sudah memutuskan untuk pulang. Setelah berjalan sampai kaki ku, Risto dan Acil lecet-lecet, kami menemukan keberadaan Museum tersebut. Kami segera membeli tiket dan masuk ke dalam. Ikan yang paling menarik perhatian kami di sini adalah ikan piranha dan belut listrik yang besar dan panjang sekali. Kami yakin jika ia bisa berbicara, pasti sudah teriak kalau aquariumnya sempit.
Setelah selesai menjelajah dan mengambil beberapa foto, kami menuju Museum Serangga. Aku yang memang takut berlebihan dengan ciptaan Allah yang kecil dan hidup itu hanya bisa memandang aneh yang bertolak belakang ketika aku melihat isi Museum Reptil.


Sesudahnya, kami menuju masjid karena Risto belum Shalat ashar dan dzuhur tadi. Aku dan Acil yang kebetulan sedang tidak shalat menunggu di toko di samping masjid. Setelah beberapa lama kemudian kami melanjutkan perjalanan kami mencari pintu keluar dan pulang. Aku yakin sekali kalau kita berangkat pulang dari masjid itu pukul 5 sore. Namun karena harus berjalan jauh dan memutar, sehingga menghabiskan waktu banyak, di sinilah kami sekarang, di dalam bis pada pukul 6 sore. Kami bersyukur dapat naik bis ini ketika bis ini masih kosong. Karena sekitar pukul 6:20 bis ini penuh sesak dengan orang-orang. Dan parahnya lagi perkiraanku soal sampai rumah pukul 7 malam, salah besar.


Walau harus bangun pagi, kaki ku lecet-lecet, kehujanan, rambutku tidak jelas karena rintikkan hujan, naik angkutan umum/bis yang penuh sesak, jalan beratus-ratus meter bahkan sampai kilometer pun, aku sama sekali tidak akan keberatan. Aku akan sangat senang jika itu aku lakukan bersama mereka lagi! ♥:D

4 komentar:

  1. Kok nggak naik busway, ya? :D

    BalasHapus
  2. dari bekasi emang naik busway kemana bun? ._. Abisnya kita yg pernah punya pengalaman ke TMII cuma satu bun jd yang tau kendaraan dia. Kalo gatau nanti nyasar ._.

    BalasHapus
  3. Di terminal angkot 45 (Pulo Gadung), ada jalur busway. :D

    BalasHapus
  4. Wah kalo kataku lebih cepat naik bis itu bun. Apalagi kalo naik busway harus ke pulogadung dulu._.

    BalasHapus