Dan ketika aku mencoba membaca situasi, membuka apa yang telah terjalin dan membekas dalam menjalar hingga ke dalam humus, aku tidak bisa membaca apa yang telah terjadi disini. Kepada kamu yang di luar sana, yang membaca, maupun kepada siapa aku peruntukan tulisan ini, aku minta maaf. Rasanya seperti aku berdiri berhadapan denganmu, sangat dekat, dan kemudian kamu menatapku dalam lalu mengucapkan 'selamat tinggal' dan seterusnya menghempaskanku jatuh dari gedung pencakar langit yang telah berdiri tidak dengan sendirinya, tentunya.
Dingin, seperti aku berdiri di danau es dan mencoba menggapai dan disaat yang sama aku meraih pundakmu, aku jatuh kedalam retakan danau yang tak berdasar. Mungkin aku seperti berlari di dalam telur, berlari, lari dan terus berlari tanpa pernah sampai pada ujungnya. Tapi, rasanya itu tidak akan menjadi kendala, masalah, apalagi keterpurukan. Walau harus bertelanjang kaki, berjalan, berari sampai tertatih, aku bukan manusia lemah. Namun, ketakutan yang menghampiriku sekarang, perlahan, menjalar pelan menimbulkan kegundahan yang semakin membuatku ingin tau, apa alasannya. Aku ingin alasan itu menepuk pundakku dan membisiki alasan-alasan yang membuat diriku berkecamuk dengan segala pola pikir serumit benang rajut.
Kepada kamu yang di luar sana, yang membaca, maupun kepada siapa aku peruntukan tulisan ini.
![]() |
| Ambigu |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar