Kamis, 11 Oktober 2012

Siluet Senja


Gundah bukan lagi kata yang cukup tepat mendeskripsikan suasana hati
Sedih bukan lagi hal asing yang terpatri manis setiap hari
Manis rasanya mengingat dulu duduk di tepian
Melihat senja datang menyapa langit yang temaram.

Masih dapat aku rasakan nyaman, kerap kali buih-buih air itu menyentuh permukaan kulitku
Masih teringat jelas bagaimana cantiknya pemandangan yang disuguhkan oleh tempat itu
Sungguh penyelamat hidupku.

Terdiam dalam hembusan angin yang membelai tiap helaian rambutku
Larut dalam suara ombak yang menghantam karang-karang indah rumah penghuni bawah laut
Tenggelam dalam suasana yang menawarkan ketenangan batin yang tidak dapat di deskripsikan.

Tiba-tiba terselip sebuah siluet-siluet akan nama dan memori
menghempaskan diri jatuh hingga terbang
membangun jiwa yang tak tenang
terlalu manis untuk di ceritakan, bukan berarti tidak ada sakit telah tercipta.

Bagaimana rasanya wahai karang?
Apakah bahagiamu karena tidak lagi terhantam ombak?
Atau sedihmu karena jauh dari tempatmu seharusnya berada?

Seperti bergantung pada takdir
Yang memaksa batin menyerah walau tak ingin
Terlihat samar-samar senyum yang tak sehangat dahulu
Senyum yang selalu menjadi alasan bahagia terlukis di wajah ini.

Bukan tak semanis dulu
Paras itu tidak pernah merubah nilai tambah pesonanya
Hanya saja ada rasa hangat yang hilang dari kilatan mata itu
Si pemilik atmosfer terkuat yang ada dalam hidupanku.

Namun aku tidak lagi dapat duduk manis memainkan buih-buih air laut yang menyelipkan pasir-pasir halus di sela-sela jemariku
Aku tidak sadar bahwa satu-satunya tempat yang menjadi tambatan hati ini telah tertutup
Dan kata tertutup pun kian lama sekiranya akan berubah menjadi 'ditutup'.

Tak ada lagi tongkat-tongkat kecil tergeletak tak bernyawa ku ambil dan kumpulkan
Ku gunakan untuk menulis
Menulis nama pada sang pasir
Mencurahkan cita, keinginan, mimpi dan perasaan di sana
Namun, seperti kata pepatah...
Apabila kamu menulis pada sang pasir pantai, cepat atau lambat akan terhapus oleh air laut yang iri ingin ikut bermain.

Rasanya jauh
Semakin tak terjangkau sosok itu
Ia terus berjalan
Tegap dan tegas tak menoleh ke belakang.

Aku termangu dalam diamku
Terjebak akan hal manis dan pahit yang terus mengalir meresume memoriku
Gulatan emosi bercampur tak tertahankan
Tak bersuara, tak bergerak, namun tetap bernyawa
Perlahan tapi pasti, tetes demi tetes jatuh mengalir di pipi
Tersenym kecut dan mencaci diri sendiri.

Rasanya sedih tidak dapat kembali ke pangkuan
Seperti melihat orang yang kau sayangi kehilangan pengheliatannya karenamu
Rasanya sakit tidak karuan
Seperti harus merelakan kelinci putih yang telah kau sayang, rawat, jaga dan lindungi bertahun-tahun untuk pergi darimu
Rasanya hancur tanpa kata
Saat diam adalah satu-satunya pilihan yang diwajibkan untuk di pilih.

Sayang, semanis-manisnya cup cakes yang kamu makan, akan menjadi hambar bila sudah di buang. Apabila kamu tidak bisa melakukan apa yang kamu ucapkan, lebih baik tidak mengucapkan suatu hal yang dapat 'di pegang'.

Aku menunggu
Entah menunggu pantai itu untuk di buka, atau kapan akan di tutup
Aku berdiri berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, terus sampai tidak dapat berdiri lagi.

Tapi sayang, sosok ini hanyalah setangkai bunga tepi pantai. Setia menanti kalau saja kupu-kupu itu akan hinggap, melepas lelahnya sambil menikmati manis madu itu. Ia tahu akan tiba waktunya madu itu habis dan kupu-kupu itu akan meninggalkannya. Saat itu terjadi, tidak ada yang bisa ia lakukan. “Aku tidak mungkin menghancurkan sayapnya hanya untuk membuatnya tetap di samping ku,” ucapnya.
Yang tersisa baginya hanyalah bertahan. Menjaga dirinya agar tak layu dan mempersiapkan madu termanisnya hingga waktunya tiba. Waktu dimana kupu-kupu itu datang kembali ke peraduannya. Meski ia tidak tahu kapan, atau bahkan akan.

Bau khas air laut menyelinap masuk indera penciumanku
Mentari yang terik itu perlahan bergerak manuju barat
Digantikan senja yang menawarkan segala hal manis yang tak dapat ku tolak

Senja yang takkan bisa ku lupakan
Yang selalu ku nanti hangat dan damainya
Senja yang menyimpan semua curahku
Senja manis yang sudah sulit tersentuh

Dipaksa dan harus kehilangan itu memang tidak dapat dipungkiri pilunya
Aku rindu senja itu
Senja yang sudah lama tak terlihat hati meski tergapai mata
Senja tempat nyata, mimpi dan lamunanku.

          Sometimes what's real is something you can't see             

2 komentar: