Gundah bukan lagi kata yang cukup tepat
mendeskripsikan suasana hati
Sedih bukan lagi hal asing yang
terpatri manis setiap hari
Manis rasanya mengingat dulu duduk di
tepian
Melihat senja datang menyapa langit
yang temaram.
Masih dapat aku rasakan nyaman, kerap
kali buih-buih air itu menyentuh permukaan kulitku
Masih teringat jelas bagaimana
cantiknya pemandangan yang disuguhkan oleh tempat itu
Sungguh penyelamat hidupku.
Terdiam dalam hembusan angin yang
membelai tiap helaian rambutku
Larut dalam suara ombak yang menghantam
karang-karang indah rumah penghuni bawah laut
Tenggelam dalam suasana yang menawarkan
ketenangan batin yang tidak dapat di deskripsikan.
Tiba-tiba terselip sebuah siluet-siluet
akan nama dan memori
menghempaskan diri jatuh hingga terbang
membangun jiwa yang tak tenang
terlalu manis untuk di ceritakan, bukan
berarti tidak ada sakit telah tercipta.
Bagaimana rasanya wahai karang?
Apakah bahagiamu karena tidak lagi
terhantam ombak?
Atau sedihmu karena jauh dari tempatmu
seharusnya berada?
Seperti bergantung pada takdir
Yang memaksa batin menyerah walau tak
ingin
Terlihat samar-samar senyum yang tak
sehangat dahulu
Senyum yang selalu menjadi alasan
bahagia terlukis di wajah ini.
Bukan tak semanis dulu
Paras itu tidak pernah merubah nilai
tambah pesonanya
Hanya saja ada rasa hangat yang hilang
dari kilatan mata itu
Si pemilik atmosfer terkuat yang ada
dalam hidupanku.
Namun aku tidak lagi dapat duduk manis
memainkan buih-buih air laut yang menyelipkan pasir-pasir halus di
sela-sela jemariku
Aku tidak sadar bahwa satu-satunya
tempat yang menjadi tambatan hati ini telah tertutup
Dan kata tertutup pun kian lama
sekiranya akan berubah menjadi 'ditutup'.
Tak ada lagi tongkat-tongkat kecil
tergeletak tak bernyawa ku ambil dan kumpulkan
Ku gunakan untuk menulis
Menulis nama pada sang pasir
Mencurahkan cita, keinginan, mimpi dan perasaan
di sana
Namun, seperti kata pepatah...
Apabila kamu menulis pada sang pasir
pantai, cepat atau lambat akan terhapus oleh air laut yang iri ingin
ikut bermain.
Rasanya jauh
Semakin tak terjangkau sosok itu
Ia terus berjalan
Tegap dan tegas tak menoleh ke
belakang.
Aku termangu dalam diamku
Terjebak akan hal manis dan pahit yang
terus mengalir meresume memoriku
Gulatan emosi bercampur tak tertahankan
Tak bersuara, tak bergerak, namun tetap
bernyawa
Perlahan tapi pasti, tetes demi tetes
jatuh mengalir di pipi
Tersenym kecut dan mencaci diri
sendiri.
Rasanya sedih tidak dapat kembali ke
pangkuan
Seperti melihat orang yang kau sayangi
kehilangan pengheliatannya karenamu
Rasanya sakit tidak karuan
Seperti harus merelakan kelinci putih
yang telah kau sayang, rawat, jaga dan lindungi bertahun-tahun untuk
pergi darimu
Rasanya hancur tanpa kata
Saat diam adalah satu-satunya pilihan
yang diwajibkan untuk di pilih.
Sayang, semanis-manisnya cup cakes yang
kamu makan, akan menjadi hambar bila sudah di buang. Apabila kamu
tidak bisa melakukan apa yang kamu ucapkan, lebih baik tidak
mengucapkan suatu hal yang dapat 'di pegang'.
Aku menunggu
Entah menunggu pantai itu untuk di
buka, atau kapan akan di tutup
Aku berdiri berhari-hari,
berminggu-minggu, berbulan-bulan, terus sampai tidak dapat berdiri
lagi.
Tapi sayang, sosok ini hanyalah
setangkai bunga tepi pantai. Setia menanti kalau saja kupu-kupu itu
akan hinggap, melepas lelahnya sambil menikmati manis madu itu. Ia
tahu akan tiba waktunya madu itu habis dan kupu-kupu itu akan
meninggalkannya. Saat itu terjadi, tidak ada yang bisa ia lakukan.
“Aku tidak mungkin menghancurkan sayapnya hanya untuk membuatnya
tetap di samping ku,” ucapnya.
Yang tersisa baginya hanyalah bertahan.
Menjaga dirinya agar tak layu dan mempersiapkan madu termanisnya
hingga waktunya tiba. Waktu dimana kupu-kupu itu datang kembali ke
peraduannya. Meski ia tidak tahu kapan, atau bahkan akan.
Bau khas air laut menyelinap masuk
indera penciumanku
Mentari yang terik itu perlahan
bergerak manuju barat
Digantikan senja yang menawarkan segala
hal manis yang tak dapat ku tolak
Senja yang takkan bisa ku lupakan
Yang selalu ku nanti hangat dan
damainya
Senja yang menyimpan semua curahku
Senja manis yang sudah sulit tersentuh
Dipaksa dan harus kehilangan itu memang
tidak dapat dipungkiri pilunya
Aku rindu senja itu
Senja yang sudah lama tak terlihat hati
meski tergapai mata
Senja tempat nyata, mimpi dan
lamunanku.
![]() |
| Sometimes what's real is something you can't see |

minta gambarnya yah buat dipajang di artvailable.tumblr.com
BalasHapus=))
BalasHapus