Selasa, 10 April 2012

Langkah Kaki

Ku langkahkan kakiku, setapak demi setapak di jalan besar nan megah itu. Matahari terik menyongsong di saat ini, menyengat kulitku hingga ke bagian dalam. Ku seka keringat yang menetes di keningku. Aku tidak tau kemana aku harus berjalan lagi. Rasanya lambat laun langkah ini makin tidak menentu, berat pun menambah kesulitan dalam langkah kakiku ini.

Ku tengok ke berbagai penjuru, rasanya aku sama sekali tidak melihat sesosok orang pun berada di jalanan besar itu. Aku berhenti sejenak. Kemudian dari kejauhan aku melihat beberapa orang datang yang semakin lama, semakin banyak orang terlihat di kejauhan. Ku kerjapkan mataku, dan ku coba teliti satu persatu. Adakah sosok orang yang ku kenal di antaranya. Rasanya seperti Dejavu, aku merasa pernah bertemu mereka. Namun aku benar-benar tidak mengenali sosok mereka yang sebetulnya.

Mereka terus berjalan, berjalan dan berjalan tanpa menegurku untuk skedar sapaan 'hai'. Kecewa. Aku kecewa pada memoriku. Pada diriku sendiri. Ketika aku seperti Dejavu melihat mereka, namun ternyata aku sama sekali tidak mengenali mereka yang sesungguhnya. Entah memoriku yang mengalami kesalahan, atau memang hati tak saling sampai mengenali.

Aku terus berjalan mencoba mengikuti arus langkah kaki orang-orang yang telah mengisi kelenggangan jalan besar nan megah ini. Terkadang cepat, terkadang lambat. Terkadang aku bisa mengikuti, terkadang sebaliknya. Sampai ketika aku lelah, aku mendengar suara. Sebuah suara yang lebih terdengar seperti bisikan dari pada teriakan. Dari kejauhan, aku melihat sesosok manusia yang sangat familiar di memoriku. Ia juga terlihat lelah, namun entah mengapa ia memanggil namaku berkali-kali. Aku perdalam memoriku. Dan ternyata sama saja. Aku tidak mengenal betul siapa sosok manusia yang telah memanggil-manggil namaku itu. Hati belum sampai menilai. Namun, entah bagaimana, ia mengajakku untuk bangkit bersama. Kami berjalan menelusuri perjalanan yang entah dimana ujungnya itu.

Tak terasa mentari sedikit meredupkan sinarnya. Tanda senja menghampiri, membuat bayangan kami kian memanjang. Kemudahan di berikan oleh Allah untuk kami saat ini. Tidak lagi seterik tadi. Tidak lagi sesepi tadi. Walau hati belum sampai menilai, walau aku kecewa, walau aku lelah, mereka yang telah mengisi kelenggangan jalan besar nan megah ini. Sosok-sosok orang yang ada di memoriku, namun tidak ku kenal betul hatinya. Sosok-sosok yang selalu aku rindukan, bahkan walau mereka tidak merindukanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar