Aku kembali dengan catatan perjalananku dari Belanda. Kala itu aku tengah duduk di balkon rumahku di lantai dua. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Rintik-rintik halus hujan masih sedikit terlihat, namun tak mengurangi keindahan matahari sore yang terlihat jelas di ujung lautan luas di ujung pengheliatanku. Ku hirup aroma cokelat panas dan kunikmati suasana sore itu. Terlihat mulai ramai jalanan di depan rumahku. Orang-orang lalu lalang, anak-anak berkejaran, penjual koran, hingga pemuda pemudi yang mengisi sore harinya dengan bersepedah. Sampai aku teringat harus mengirimkan surat ke kantor pos yang berjarak 500 meter dari kediamanku. Segera aku bergegas dan tak lupa membawa surat yang harus ku kirimkan kepada ayahku di kantornya, di Inggris.
Aku menelusuri jalan Venlo itu dan telah sampailah aku di kantor pos, sekarang. Sedikit perbincangan dengan Bapak Beward dan aku pun mengirim surat itu. Surat itu akan sampai sekitar 3 hari dari sekarang. Mengingat di rumah sedang tidak ada makanan, aku beranjak untuk ke Mcdonald sekedar membeli makanan untukku dan Bibi Geya, ah mungkin satu lagi untuk kakakku tersayang. Di sini aku memang hanya tinggal bersama Bibi Geya dan kakakku, Kyle. Ia seorang mahasiswa universitas Amsterdam. Perawakannya yang mudah bergaul dan good looking membuatnya pergi pagi -sekitar jam 9- dan baru berada di rumah jam 7 malam, tepat saat makan malam.
Kini aku dapat melihat logo Mcdonald dari tempatku berpijak. Tak lama kemudian ku rasakan tetesan air yang tidak bisa di bilang halus menjatuhi rambut kemudian menuju kulit kepala ku. Akhir-akhir ini Amsterdam memang sering turun hujan. Tak heran kalau aku menyimpan payung lipat di tasku. Ku buka payung itu kemudian ku payungi diriku, melindungi kulit kepalaku yang sensitive terhadap zat-zat asing. Aku tidak mau menggaruk kulit kepalaku di muka umum, tentunya. Kini aku tengah mengantri untuk memesan 3 Paket panas spesial untukku dan Bibi. Ku kerjapkan mataku dan terlihat seorang anak perempuan berkisar umur 10 tahun tengah kehujanan dan di maki-maki oleh seorang penjaga toko. Sepertinya ia mengusir gadis kecil itu karena ia meneduh di depan tokonya. Sungguh kasihan sekali. Tak lama tangan besar sang pemilik toko ramen itu menampar pipi anak itu. Aku tersentak begitu pula orang-orang yang melihat kejadian itu. Aku keluar dari antrian dan akhirnya menghapiri gadis kecil itu. ku rangkul ia dan ku bawa duduk di Mcdonald bagian luar. Aku tidak mau ia kena marah lagi atau kedinginan karena temperatur pendingin di dalam sana. Aku memesan sebuah sup dan teh hangat untuk gadis itu. Ku lihat ia sedikit takut untuk menyentuh makanannya. Tapi setelah aku ajak berbicara ia akhirnya menyicipi makanannya.
Aku mencoba ramah padanya. Ku tanya tentang keadaannya. Ia tidak terlalu banyak berbicara dan bukan tergolong ceria di usianya. Ku antar ia pulang yang ternyata rumahnya berada di pemukiman kumuh di kota ini. Ia mempersilahkan aku masuk dan duduk. Ku lihat di dalam rumah yang aku ketahui bernama mia ini, hanya ada 2 tempat tidur, 1 kamar mandi dan 1 meja yang cukup untuk 4 orang. di atasnya ada 4 piring, 4 gelas dan 4 sendok. Aku berpikir ia 4 bersaudara. Karena ia bilang ke dua orang tuanya sudah tidak ada sejak 2 tahun lalu. Ia anak terakhir dan yang paling sering ada di rumah. Ia bekerja sebagai penjual koran di pagi hari.
Kemudian tanpa aku duga ia mengajakku berbicara. Ia bertanya apa rasanya tinggal di pusat kota. Ia bilang 'pasti menyenangkan tinggal di pusat kota, dengan rumah dan fasilitas yang memadai. Tidak perlu ada yang kau takutkan.' Aku yang mendengarnya hanya tersenyum. Itu fakta, memang sangat menyenangkan aku tidak harus tinggal di wilayah pinggiran kota dan kau bisa menemui banyak ketakutan di sini. Bahkan kakakku bisa menceramahiku 1 jam jika ia tau aku memijakkan kakiku di wilayah pinggiran kota. Ia terkadang lebih protektif di bandingkan ayah. "Hei Mia, kau 4 bersaudara ya?" Tanyaku padanya. "iya kak. Aku empat bersaudara." Ia terlihat Sedih ketika menjawab pertanyaanku. 'Apakah pertanyaanku salah? Apa Kakak-kakaknya juga telah tiada?' pikirku. Tiba-tiba ia bertanya apa aku mempunyai seorang kakak atau tidak. Akupun menceritakan tentang kakaku yang super protektif itu. Ia tersenyum pahit dan mengatakan bahwa pasti hidupku sangat sempurna. Aku mengatakan padanya, ia boleh saja bercerita apa saja kepadaku.
Tak terasa sudah 1 jam aku berada di rumahnya. Aku terhenyak sekaligus tertegun pada gadis kecil ini. Ia memang baru 10 tahun. Tetapi jiwanya bagaikan sudah 25 tahun. Ia dewasa, pemikirannya jernih dan tulus, polos. Ia mempunyai 2 orang kakak laki-laki. Namanya Jason dan Mark. dan seorang kakak perempuan Daisy namanya. Mereka hampir tidak pernah berada di rumah. Mereka bahkan seperti tidak mengingat mempunyai adik di sini. Tetapi Mia tidak pernah benci kepada mereka, bahkan ia merindukan mereka kerap kali mereka pulang. Mia selalu menerima mereka ketika mereka kembali ke rumah dengan keadaan apapun. Seperti waktu Daisy sakit parah, di saat yang bersamaan Jason lebih memilih berkelana dengan teman-temannya dan di saat itu pula Mark pergi entah kemana. Mia yang mengurusnya hingga sembuh. Aku menawarkan Mia untuk tinggal di rumahku. Namun ia menolak, ia bilang 'bagaimana kalau kakak-kakaknya pulang dan membutuhkannya?' Satu yang pasti. Mia sangat menyayangi kakak-kakaknya.
Aku mencoba membuat pengertian kepada Mia. Bayangkan 4 butir telur penyu terkubur di pasir. Mereka berkembang bersama dan akhirnya mereka menetas pada saat yang sama. Mereka berjuang menelusuri pantai menuju lautan. Namun, apakah mereka menuju pada tempat yang sama? Aku baru saja kehilangan banyak hal. Bukan berarti aku tinggal di tengah kota dengan keluarga yang hangat, aku dalam hati yang tentram dan damai. Aku baru saja kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Gerlingan semangat di mataku kian memudar. Satu persatu dari mereka mulai semakin jauh dari ku. Sedih kerap kali aku memandang cermin dan kudapati diriku tersenyum. Pasti kamu heran kenapa aku malah merasa sedih? Karena aku melihat sesuatu yang berbeda di mataku. Tak ada gerlingan semangat di mataku. Jujur aku merasa bagaikan batang kayu yang telah di tebang. Tak ada lagi daun yang mau ku topang. Aku kehilangan sedikit demi sedikit rangkaian mereka. Mereka adalah gerlingan-gerlingan semangatku. Mereka yang membuat aku semangat. Mereka bukan sekedar status bagiku. Mereka bukan sekedar angin yang lewat yang aku butuhkan. Selama ini aku susah payah berusaha menyusun kepingan-kepingan semangat dari mereka. Semakin banyak, gerlingan semangat itu semakin bersahaja. Hingga aku tidak tahu apa yang merasuki jiwa kami. Masalah itu datang, kami berupaya sebisa kami membuat semangat-semangat yang telah kami susun tetap terpancar. Namun makin kemari, aku merasa kehilangan mereka. Aku seperti merasa berjuang sendiri. Aku akui mereka begitu karena mereka mengejar kebahagiaan mereka. Tapi, apakah mereka perlu berubah? Aku telah kehilangan banyak hal akhir-akhir ini, mi. Dan aku tidak bisa dan takkan pernah bisa harus kehilangan semangat-semangatku. Mereka itu adalah sahabatku, mi. Mungkin juga cintaku. Rasanya seperti mati rasa ketika kau hanya bisa tersenyum pahit dan tak ada lagi air mata yang keluar padahal kau merasa sakit. memang tidak berdarah mi, tapi sakit kan? Semoga kita sama-sama di beri kekuatan ya Mia.
Kami kemudian saling memeluk satu-sama lain. Tak tau bertujuan untuk apa. Tapi aku merasa ia membutuhkannya. Ku selipkan beberapa lembar uang dan ku berikan makanan yang tadi sempat ku belikan untuknya. Kini aku tengah jalan menuju rumahku. Rintikkan hujan masih terasa, ku tutup payungku dan kubiarkan air hujan kali itu membasahi kulit kepalaku. Semoga, semangatku tidak pergi terlalu jauh, hingga aku mampu menyusulnya. Waktu telah menunjukkan pukul 6:30 pm. Bibi pasti khawatir dan sudah menelpon kakak. Malam ini pasti aku kena semprot kakak lagi, senyumku.
by Amigo E.D (∫ ˇ3ˇ)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar