Petir menggelegar terus malam ini. Waktu telah menunjukkan pukul 2 pagi. Aku tidak menyangka petir itu membangunkanku dan sekarang aku tidak bisa tidur lagi.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan teringat kembali masalah yang beberapa jam lalu menimpa ku. Aku tidak pernah mengerti mengapa itu begitu sulit. Tidakkah ada wktu barang sehari agar tidak ada masalah yang harus aku pikirkan?
'brak... brak... brak...' ternyata angin itu mampu mendobrak jendela kamarku. Segera ku tutup dan kali ini aku kunci permanent.
Tadinya aku kira hanya halusinasi ketika aku sempat melihat ke luar jendela dan kudapati seorang gadis kecil tengah duduk di beranda pintu rumah ku yang kecil ini. Ku tegaskan lagi pengelihatanku. 'Ah! itu memang seorang anak kecil.' pikirku dalam hati.
Aku berjalan ke arah pintu rumah ku, perlahan aku buka dan aku mengintip dari celah pintu itu.
Tubuhnya kecil menggigil. rambut cokelat panjangnya basah, senasib dengan pakaiannya yang basah pula. Aku tak tega melihatnya seperti itu. 'hei! lagi pula dia duduk di beranda rumahku. Sudah sewajarnya aku menolongnya bukan?' pinta ku dalam hati.
Aku bergegas mengambil handuk dan menghampiri gadis kecil tadi. Ku pegang pundaknya, dan ku balikkan dia ke arahku. Tak ku sangka gadis kecil ini cantik sekali. 'Kemana keluarganya? Mengapa ia bisa duduk sendirian di beranda rumahku?'Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benakku. Tapi segera ku tepis ketika gadis kecil itu membuka matanya dan raut mukanya sedikit kaget melihatku. "Tak apa, kau pasti kedinginan. mari masuk, akan aku buatkan teh hangat untuk mu." Ia menatapku sebentar, memperhatikan ku dari ujung kepala sampai kaki ku. 'ah, aku seperti orang yang terkesan jahat saja rasanya' pikirku. "Tidak percaya dengan orang asing ya? Tenang saja, aku hanya remaja sebatang kara. aku tidak akan menyakiti gadis kecil atau siapa pun, percayalah." aku melingkarkan handuk di pundaknya dan tersenyum kepadanya. Kucoba membujuknya untuk masuk. bagaimana kalau besok pagi ada berita ada seseorang yang meninggal di beranda rumahku? bisa panjang urusannya.
Akhirnya gadis kecil itu berdiri dan menuruti apa kataku tadi. mungkin ia juga menimbang-nimbang bahwa keputusan untuk berada di luar akan memberikan dampak buruk baginya.
Sekarang gadis kecil yang beberapa menit yang lalu aku ketahui bernama aqua itu tlah memakai pakaian ku dan menikmati teh hangat yang ku buatkan. Ia tidak terlalu banyak bicara seperti anak-anak seusianya pada umumnya. Matanya biru aquamarine, rambut cokelat panjangnya kini telah kering, jatuh menjontai dan terlihat indah. Kulitnya putih bersih layaknya anak orang kaya. 'Tetapi apa yang membuatnya sendirian di tengah hujan?' tanyaku pada diriku sendiri.
"Hei Aqua, dimana orang tuamu? sedang apa kamu berada did tengah hujan seperti ini?" tanyaku pelan. Entah mengapa ia hanya terdiam dan meletakkan cangkirnya di atas meja. masih ku tunggu jawaban darinya, "jadi...." gumamku.
"aku sudah tidak memiliki orang tua, kak. Mereka meninggal 3 tahun yang lalu. Kemudian aku tinggal di panti, tetapi beberapa hari yang lalu panti kami di gusur dan kami terpisah-pisah."
Takku sangka anak sekecil dia sudah tidak memiliki orang tua. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana berat hidupnya. Umurnya pasti baru sekitar 10 tahun dan ia sebatang kara.
Masalahku tidak lebih besar dari masalahnya. Beban yang ku pikul juga tidak lebih besar darinya. Mungkin Allah mengirimkannya kepadaku agar aku sadar bahwa masih ada orang lain yang lebih sulit. Setiap orang yang kita temui bisa jadi sedang menghadapi tantangan yang lebih sulit.
Tiba-tiba aku teringat bahwa sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah hanya karena pertengkaran dengan Mila sahabatku dan Doni pacarku. Ah! itu tidak sebanding dengan beban yang di tanggung Aqua. Sedikit malu dan rasa bersyukur menghampiriku. Walau harus pisah dengan kedua orang tuaku, setidaknya aku masih memiliki mereka. Tanpa sadar aku teringat mereka, aku tidak terbayang bagaimana kalau aku yang berada di posisi Aqua. Air mata yang menggantung di pelupuk mataku akhirnya turun juga.
"Kakak kenapa menangis?" tanya anak itu padaku.
"Tidak apa-apa, hanya saja teringat kebodohan ku yang menyebabkan masalah. hehehe" kusunggingkan senyumku padanya. Aku tidak tau apa yang ia pikirkan sampai ia berkata "Kesalahan itu pelajaran. Dalam hidup ini satiap hembusan nafas ini kita belajar. Waktu dulu ibu berkata itu, aku tidak mengerti maksudnya. Ibu memintaku mencari artinya sendiri. Hingga suatu hari ayahku meninggal dunia, sakit sekali rasanya. Aku menangis melihat tubuh ayahku yang sudah terbaring tak bernyawa. Tak adalagi cium di pipiku darinya. Tak adalagi sihir ketika aku tertidur di ruang tv dan ketika aku bangun, aku sudah berada di ranjangku yang empuk. Aku melihat ibuku duduk lemas di samping ayahku, mukanya pucat dan ia terlihat lemah. Aku menghampirinya dan ia mrasakan kehadiranku. Ia tersenyum kepadaku dan ia menggendongku, membisikiku sesuatu. 'Sayang, ini adalah bagian dari pelajaran besar. Sudahkah kau mengerti? Ini tentang ketegaran dan keikhlasan.'
Aku cerna kalimat yang ia berikan, dan aku mengerti maksudnya. Selayaknya setiap kelinci yang ayahku belikan. Setiap ia mati, aku menangis merelakannya. Aku mengangguk dan melihat lagi ke tubuh ayahku yang terbaring, lagi lagi aku teringat nasihat-nasihat yang ia lantunkan. airmata di pelupuk mata siap jatuh, tetapi aku takut ibuku menangis. aku tidak mau melihatnya tambah sedih. Kemudian ibu memelukku, ia menepuk punggungku dan berbisik 'menangis itu tidak apa-apa'.
Tangisku pecah, ku peluk erat tubuh ibuku."
Aku hanya bisa terdiam mendengar ceritanya. Bagaimana bisa anak sekecil ini lebih dewasa dari ku. Sungguh hina kalau aku merasa paling susah dan tidak bersyukur. Ya Allah, maafkan hambamu ini.
Ku peluk tubuh mungil gadis kecil itu. Entah bagaimana, aku menawarkannya menginap di rumahku.
Aku telah belajar, bahwa kita harus mensyukuri apa yang telah ada. Karena setiap orang yang kita temui sedang melawan sesuatu yang lebih sulit... -End-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar