Minggu, 04 September 2011

Dengarkan Pintaku Sahabat

Sahabat, aku bagaikan air.
Jika kau tempatkan aku pada tempat yang 'tepat', aku akan tetap bersama mu.

Sahabat, aku hanyalah selembar kertas putih sebelumnya.
Setelah bertemu dengan mu, kertas putih ini telah terurai banyak kata menceritakan tentang kita.

Sahabat, aku bagai iTunes kosong.
Terdengar sangat membosankan sampai kau isi 'iTunes' itu dengan melodimu.

Sahabat, kau bagaikan cahaya hangat matahari.
selalu aku nantikan setiap sang hujan menghampiri ku.

Sahabat, jika suatu saat aku beranjak dari mu. Itu berarti aku mengenal orang lain.

Mungkin kau agak menempatkan ku pada tempat yang salah, sehingga aku bertemu dengan orang lain.




Sahabat, jika detik demi detik kau hitung berapa lama aku beranjak dan aku tak kembali ke dalam cawan yang kau punya, berarti penempatan mu terkalahkan dengan orang lain itu.
Entah karena bencana yang menerpa kita atau sikap kita yang saling tak berusaha memperbaikinya.
Anggaplah ini semua takdir. Kita sama-sama menerima orang lain yang baru, bukan?

Sahabat, tapi aku bukan bagaikan kacang lupa kulitnya. Aku tidak pernah beranjak jauh dari sahabatku. Tak sangka sejauh apapun diri ku dengan orang yang aku anggap sahabat, aku masih mengecek jejaringan sosial sekedar mencari tahu kabarmu.

Sahabat, aku bukan malaikat.
Suatu saat aku bisa saja melukaimu.

Sahabat, aku bagaikan belati.
terkadang sikapku dan ucapanku menyayat hatimu.

Sahabat, maafkan aku tentang cerita yang tidak berjalan terlalu baik ini.
tetapi ini tentang kita. Kita yang merakitnya. mula mula hanya sebuah rakit hingga menjadi kapal.
Percayalah, sejahat apapun ucapan ku, perlakuanku, itu karena aku tak mampu menguasai emosi belaka. Sungguh, aku selalu menyayangi sahabat-sahabatku. O:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar